"Rata-rata target pertumbuhannya hanya 5-10%. Mereka (perbankan) memangkas pertumbuhan kreditnya," terang Head of Transaction Banking PT Bank Permata Tbk Rubby Harijono di JW Marriot Hong Kong, Rabu (16/9/2015).
Bagi Bank Permata, perlambatan pertumbuhan ekonomi juga dirasakan mempengaruhi kinerja penyalur kredit bank.
Padahal, penyaluran kredit termasuk pembiayaan syariah tumbuh 11% yoy dari Rp 119 triliun pada tahun 2013 menjadi Rp 132 triliun pada tahun 2014.
Pertumbuhan kredit ini didorong oleh bisnis UKM serta segmen local and middle market corporates yang di topang oleh Trade Finance dan produk-produk pinjaman. Total aset mencapai Rp 185 triliun, naik 12% yoy dari Rp 166 triliun di tahun sebelumnya.
"Kami di Bank Permata juga menargetkan pertumbuhan kredit hingga akhir tahun hanya 5-10%. Tahun lalu kami ada di angka 11%," sebut dia.
Pemangkasan target ini diakuinya sebagai respon atas adanya perlambatan ekonomi yang salah satunya disumbang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Sejumlah pelaku usaha khususnya yang masih bergerak di bisnis komoditi seperti batubara, nikel dan lainnya mulai mengalami penurunan pendapatan.
"Sekarang berapa sih industri yang mengalami penurunan? Ada industri yang saya temui ada penurunan omzet Rp 10-15 triliun," aku dia.
(dna/ang)











































