Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, keputusan tersebut sudah mempertimbangkan banyak faktor, utamanya soal rencana naiknya suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).
Selain itu, kebijakan bank sentral China untuk mendevaluasi mata uang yuan juga menjadi pertimbangan BI untuk tetap menahan BI rate.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tirta menjelaskan, selain soal The Fed dan Yuan, dari sisi domestik juga ada tekanan yaitu tingginya permintaan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri sementara pasokan terbatas
"Tapi dominan sih faktor eksternal," katanya.
Sehubungan dengan itu, fokus kebijakan Bank Indonesia dalam jangka pendek tetap diarahkan pada langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, dengan terus memperkuat operasi moneter di pasar uang Rupiah dan valas, memperkuat pengelolaan penawaran dan permintaan valas, serta melanjutkan langkah-langkah pendalaman pasar uang.
Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi, khususnya stabilitas nilai tukar, dan stabilitas sistem keuangan dalam mendukung kesinambungan perekonomian.
BI memandang positif paket kebijakan Pemerintah yang diluncurkan pada tanggal 9 September 2015 sebagai langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan reformasi struktural yang diperlukan dalam memperkuat perekonomian Indonesia.
Ke depan, koordinasi dengan Pemerintah akan terus diperkuat untuk mendukung efektivitas dan konsistensi kebijakan struktural yang menjadi kunci perbaikan prospek ekonomi Indonesia.
Di tengah indikasi membaiknya ekonomi AS, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan lebih lambat dibandingkan perkiraan semula. Perlambatan ekonomi global tersebut terutama bersumber dari masih terbatasnya pertumbuhan ekonomi emerging market, khususnya China.
Ekonomi AS diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari perkiraan semula, didukung oleh perbaikan konsumsi. Namun, devaluasi Yuan diperkirakan dapat menurunkan ekspor AS dan inflasi dibawah targetnya.
Dengan perkembangan tersebut, risiko ketidakpastian kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) di AS masih terus berlanjut dengan kemungkinan waktu kenaikan FFR yang cenderung mundur ke akhir tahun.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Eropa diperkirakan terus membaik, ditopang oleh kuatnya permintaan domestik dan keyakinan konsumen ke depan.
Meskipun perbaikan sektor properti terus berlanjut, ekonomi China secara keseluruhan masih mengindikasikan pelemahan.
Ekonomi Jepang diperkirakan masih tumbuh terbatas, seiring dengan masih lemahnya permintaan domestik.
Sementara itu, ekonomi India diperkirakan masih tumbuh cukup kuat, meskipun bias ke bawah.
Selain masih berlanjutnya ketidakpastian kenaikan suku bunga FFR, risiko pasar keuangan global juga semakin meningkat, seiring dengan kebijakan Bank Sentral China yang melakukan devaluasi Yuan dan mengadopsi sistem nilai tukar yang lebih fleksibel.
Di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2015 diperkirakan akan meningkat. Konsumsi rumah tangga menunjukkan indikasi perbaikan, sejalan dengan meningkatnya penjualan sepeda motor.
Investasi diperkirakan tumbuh meningkat, terutama didorong oleh meningkatnya investasi pemerintah.
Peningkatan investasi pemerintah ditopang oleh realisasi proyek-proyek infrastruktur, seperti pembangunan jalan tol, pembangkit listrik, dan bendungan yang sebagian telah memasuki tahap konstruksi.
Kegiatan investasi yang meningkat tersebut tercermin dari meningkatnya penjualan semen, impor barang modal, dan indikasi peningkatan kredit.
Selain itu, penyerapan belanja fiskal daerah juga berpotensi untuk semakin meningkat, sejalan dengan upaya khusus yang telah disiapkan Pemerintah untuk meningkatkan penyerapan belanja pemerintah daerah.
Di sisi lain, perbaikan ekspor berlangsung secara gradual seiring dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang belum secepat perkiraan semula. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 4,7-5,1% pada 2015.
Konsistensi Pemerintah dalam mendorong reformasi struktural melalui berbagai paket kebijakan ekonomi dan realisasi proyek-proyek infrastruktur diperkirakan akan mendorong perekonomian semakin baik.
(drk/ang)











































