Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro mengatakan, posisi cadev masih cukup aman, untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri. Akan tetapi perlu ditingkatkan untuk menjaga berbagai risiko ke depannya.
"(Cadev) Tidak kritis, cuma kan istilahnya leih banyak lebih baik ya. Kalau punya dompet tebal kan lebih enak kan, daripada dompetnya kering yah kantong kering. Jadi intinya bagaimana kita mempertebal dompet kita itu," kata Bambang, di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (22/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Otomatis suplai dolar juga menjadi lebih banyak. Kalau suplai dolar itu lebih banyak, mudah-mudahan rupiah tidak volatile kalau ada guncangan eksternal, itu intinya," jelasnya.
Spekulasi di pasar keuangan masih akan terus terjadi, menyusul keputusan Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) menahan tingkat suku bunga acuannya. Kemungkinan kenaikan suku bunga acuan ini bergeser ke akhir 2015, dengan melihat perkembangan data perekonomian AS, seperti prospek pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pegangguran.
Bambang tidak membantah, kondisi di AS menekan nilai tukar rupiah. Maka dari itu berbagai persiapan harus dilakukan, khususnya pendalaman devisa. Walaupun Bambang tidak menyebutkan batas minimal cadangan devisa Indonesia.
"Ya tergantung, tapi kalau 6 bulan impor itu masih aman," imbuhnya.
(mkl/dnl)











































