Semakin berkurangnya cadev karena tingginya kebutuhan menjaga pergerakan nilai tukar rupiah tetap stabil, terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, sebelumnya cadev bahkan pernah berada di bawah level US$ 100 miliar. Akan tetapi kondisinya kala itu masih bisa dipahami, karena besarnya pengaruh eksternal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data yang dihimpun detikFinance, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, posisi cadev di bawah US$ 100 pernah terjadi pada Juni 2013 sampai dengan Desember 2013. Paling rendah adalah di periode 31 Juli 2013 US$ 92,7 miliar.
Kondisi saat itu memang cukup berat. AS menempuh kebijakan tappering off (penghentian pengucuran stimulus) dan berencana menaikkan suku bunga acuannya. Secara perlahan rupiah terus melemah. Dolar sampai menembus Rp 10.000, dan dianggap menuju titik kenyamanan baru untuk pergerakan nilai tukar.
(mkl/dnl)











































