Ekonomi Lesu, Permintaan Kredit Bank Turun

Ekonomi Lesu, Permintaan Kredit Bank Turun

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Selasa, 29 Sep 2015 11:53 WIB
Ekonomi Lesu, Permintaan Kredit Bank Turun
Jakarta - Perekonomian Indonesia tengah lesu. Kondisi ini ikut mempengaruhi permintaan kredit perbankan di dalam negeri yang tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan.

"Kredit karena sisi demand (permintaan) lesu. Kredit di Juni (tumbuh) 10,4%, Juli turun jadi 9,7%. Ini menandakan bahwa pasar kurang bergairah," kata Direktur Ritel dan Konsumer Bank Mandiri Heri Gunardi, dalam acara seminar 'Alternatif Sumber Pembiayaan Saat Ekonomi Tak Pasti' yang diadakan Majalah InfoBank, di Ballroom Intercontinental Midplaza Hotel, Jakarta, Selasa (29/9/2015).

Meski demikian, Heri menyebutkan, Indonesia akan memiliki tambahan masyarakat kelas menengah hingga 50 juta orang di 2020-2025. Ini bisa menjadi peluang bisnis baik perbankan maupun multifinance.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada 50 juta itu sama dengan jumlah penduduk Thailand dan Korea Selatan. Selalu ada opportunity," sebut Heri.

Soal kredit, Heri mengatakan, saat ini sumber pembiayaan kredit di Indonesia masih didominasi oleh perbankan. Padahal, saat ini ada sumber pembiayaan lain yang bisa jadi alternatif, yaitu multifinance.

Saat ini di Indonesia ada 3 industri keuangan dengan aset terbesar, yaitu bank dengan total aset Rp 5.900 triliun, kemudian asuransi Rp 775 triliun, dan disusul multifinance yang saat ini asetnya mencapai Rp 435 triliun.

"Angka ini terus bergerak, ini suatu kekuatan dan menggerakkan ekonomi. Industri multifinance masih menjadi bisnis yang cukup atraktif," ujar Heri.

Dia menjelaskan, perkembangan ekonomi global tengah dalam ketidakpastian. Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), menunda menaikkan tingkat suku bunganya, lalu ada devaluasi atau pelemahan mata uang China yaitu yuan, serta perlambatan ekonomi Jepang. Ini membuat perekonomian dalam negeri tertekan.

"The Fed nggak jadi menaikkan, kalau jadi ada dampak, aset-aset dolar akan kembali ke negara asalnya, devaluasi China bikin kaget kita, ini ada pengaruh ke ekspor kita, Jepang ekonomi rendah. Hampir semua negara merevisi asumsi pertumbuhan," terang dia.

Merespons perlambatan ekonomi, Heri menyebutkan, industri perbankan dalam negeri juga mulai hati-hati menjalankan bisnisnya.

Pertumbuhan kredit menurun karena permintaan lesu. Sementara kualitas kredit yang tercermin dari kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) meningkat, ini membuat perbankan berhati-hati.

(drk/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads