Ini Alasan Pengusaha RI Masih Malas Jualan ke Luar Negeri

Ini Alasan Pengusaha RI Masih Malas Jualan ke Luar Negeri

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Senin, 12 Okt 2015 15:24 WIB
Ini Alasan Pengusaha RI Masih Malas Jualan ke Luar Negeri
Foto: Dewi/detikFinance
Jakarta - Tidak lama lagi, Indonesia akan menghadapi pasar bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Untuk sektor keuangan, MEA akan mulai dibuka pada tahun 2020 mendatang.

Melalui MEA ini, setiap negara bebas berekspansi dan berlomba-lomba menonjolkan produk-produk mereka baik di sektor riil maupun keuangan.

Sayangnya, hingga saat ini, pelaku ekonomi Indonesia masih domestic oriented. Mereka menganggap pasar dalam negeri jauh lebih menguntungkan sehingga enggan untuk berekspansi ke luar negeri. Padahal, setiap negara punya potensi pasar yang menggiurkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demikian dikatakan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad saat membuka acara OJK Forum 'Peluang dan Tantangan Industri Jasa Keuangan dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN', di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (12/10/2015).

"Salah satu masalah, banyak pelaku ekonomi masih sangat memanfaatkan pasar dalam negeri, salah satu kekurangan kita, banyak players kita domestic oriented, lupa melihat pasar luar, dengan alasan margin di dalam negeri masih sangat menggiurkan sehingga tidak ada effort yang besar untuk masuk pasar luar negeri, ini satu sentilan bagi kita," jelas dia.

Menurut Muliaman, pasar luar negeri juga punya potensi yang bagus. Selain itu, melalui MEA produk-produk Indonesia bisa dikenal di negara-negara tetangga.

"Bagi mereka, keluar merupakan suatu keharusan karena potensi negara luar besar. Sementara kita, lupa dengan pasar luar," katanya.

Untuk itu, Muliaman menjelaskan, perlu dorongan yang kuat agar sektor riil dan keuangan bisa berekspansi lebih luas lagi.

"Kalau hanya mendorong industri perbankan, tidak dibarengi industri lain ya akan timpang, ini kemudian menjadi saling terkait satu sama lain, ketika ingin mendorong bank ke Vietnam, Kamboja, sementara sektor riil tidak, jadi kurang optimal," sebut dia.

Jadi, kata Muliaman, integrasi ASEAN ini tidak hanya dilihat dari sektor keuangan tapi seluruh kegiatan ekonomi seperti jasa, manufaktur dan properti sehingga terbuka luas.

"ASEAN kalau digabung itu ada 600 juta orang, artinya di Asia ini setelah China dan India, ketiga ASEAN, dan 40% dari ASEAN itu Indonesia, jadi Indonesia memegang peranan penting dalam integrasi ASEAN," terang dia.

Terkait hal itu, Muliaman mengatakan, Indonesia perlu bersiap diri menghadapi MEA agar tidak tertinggal dengan negara lain.

"Kita harus segera bergegas dalam menyiapkan diri, potensi besar di ASEAN, mubazir kalau tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya," pungkasnya.

(drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads