BI akan tetap menahan suku bunga acuan, meski ada risiko penurunan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), karena pelaku usaha dalam negeri terbebani bunga tinggi.
"Alasan pertama adalah meningkatnya inflasi. Tidak seperti negara lain di Asia, tingkat inflasi inti di Indonesia sejak 2014 lalu sudah mengalami kenaikan. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika terus berlanjut dalam meningkatkan harga barang domestik," ujar Ekonom Bank DBS Indonesia, Gundy Cahyadi, dalam keterangan yang diterima detikFinance, Sabtu (17/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gundy mengungkapkan, masih bergantungnya industri dalam negeri pada barang impor ikut membentuk sentimen negatif pada investasi sektor riil. Gundy memprediksi, investasi tahun ini hanya akan tumbuh 3,6%, atau terendah dalam 10 tahun terakhir.
Selain menahan BI Rate di tengah tekanan pelaku usaha yang meminta relaksasi bunga, menurut Gundy, BI optimistis rupiah akan stabil lewat 3 kebijakan lainnya yang dikeluarkannya pada 30 September lalu.
Tiga kebijakan tersebut yakni, intervensi yang dilakukan BI tak hanya di spot market, namun juga dilakukan di forward market valas. Kedua adalah, adanya pengurangan pajak bunga deposito untuk eksportir, dan terakhir dengan memangkas holding period Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dari 1 bulan menjadi hanya 1 minggu. Tiga kebijakan tersebut direncanakan akan berlaku mulai bulan ini.
Gundy menyebut, meski BI menjaga tingkat suku bunga stabil hingga tahun depan, suku bunga jangka pendek di market sendiri sebenarnya sudah melonjak. Selain itu, BI Rate yang masih tinggi, akan membuat kepercayaan investor pasar uang masih tetap tinggi pada rupiah. Sekaligus berpengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi.
(dnl/dnl)











































