Dukung Program Jokowi, BNI Surabaya Siap Kucurkan KUR Rp 486 M

Dukung Program Jokowi, BNI Surabaya Siap Kucurkan KUR Rp 486 M

Rois Jajeli - detikFinance
Rabu, 21 Okt 2015 20:02 WIB
Dukung Program Jokowi, BNI Surabaya Siap Kucurkan KUR Rp 486 M
Surabaya - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Wilayah Surabaya sejak Agustus hingga akhir tahun ini siap mengucurkan kredit usaha rakyat (KUR) Rp 486 milliar. Kucuran dana KUR tersebut, sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap program Presiden Jokowi Widodo (Jokowi), untuk menggerakan ekonomi kerakyatan.

"Kami telah menyiapkan KUR sebesar Rp 486 milliar untuk meningkatkan investasi atau perekonomian di Jawa Timur. Sampai saat ini sudah terserap di atas 10 persen," kata Vice President Pemimpin Wilayah BNI Kantor Wilayah Surabaya, Aryanto Purwadi, saat acata media gathering di Surabaya, Rabu (21/10/2015).

KUR dari BNI ini memang baru diluncurkan pada Agustus 2015. Awalnya ada 4 sektor utama yang dibidik untuk pengucuran dana KUR yakni, di bidang pangan, maritim, perdagangan, dan industri pengolahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun seiring dengan kebijakan Jokowi, sektor yang menjadi incaran KUR saat ini diperluas lagi ke semua sektor. "Sekarang bisa semua sektor usaha, kecuali yang dilarang oleh BI (Bank Indonesia)," tuturnya.

Ada 3 jenis KUR yang besarannya antara Rp 15 juta sampai Rp 500 juta. Untuk jenis usaha ritel, besaran KUR maksimal Rp 500 juta. Usaha mikro Rp 20 juta dan TKI Rp 15 juta. Selain prosesnya mudah, juga bunga KUR rendah 12% per tahun.

Penyalurannya melalui masyarakat dan komunitas usaha yang berada di sekitar kantor BNI. Menggandeng koperasi atau KUD hingga bersinergi dengan BUMN seperti bekerjasama dengan PTPN X, PTPN XI untuk memberikan KUR bagi petani tebu.

"One on One, bertemu dengan pedagang di pasar-pasar. Jadi masyarakat bisa dengan mudah mengajukan KUR, tapi tetap melalui proses dan tahapan, untuk menghindari kredit macet

Pengucuran KUR baru diluncurkan Agustus 2015, karena terlebih dahulu digodok lama agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

"Jadi ini digodok lama, untuk mengurangi risiko-risiko seperti kredit macet," tandasnya.

(roi/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads