Hingga September 2015, premi Mandiri Inhealth telah terkumpul Rp 1,15 triliun atau naik sebesar 4% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Total klaim yang telah dibayarkan mencapai Rp 584 miliar per September 2015.
"Premi tahun 2014 Rp 1,4 triliun. Tahun 2015 kita targetnya Rp 1,6 triliun," ujar Chief Financial Officer Armendra saat konferensi pers, di Plaza Bapindo, Jakarta, Rabu (28/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang, saat ini nilai investasi Mandiri Inhealth di instrumen saham menurun akibat merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Hingga September 2015, hasil investasi dari portofolio saham turun menjadi hanya Rp 76 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 136 miliar.
"Hasil investasi turun, per September itu Rp 76 miliar, terkoreksi karena kan capital market lagi nggak bagus. Tahun lalu itu Rp 136 miliar," sebut dia.
Armendra menyebutkan, dari total portofolio Mandiri Inhealth, porsi saham hanya sebesar 8%, disusul obligasi dan lain-lain. Instrumen deposito mendapatkan porsi paling besar dari total alokasi investasi.
"Situasi di April penurunan cukup tajam, kita lakukan shifting, portofolio saham kita lepas, kita tambah portofolio lebih ke fixed income. Kita berharap ada perbaikan di pasar," ucap dia.
Dalam kesempatan yang sama, Komisaris Utama Mandiri Inhealth yang juga Senior Executive Vice President Banking Transaction PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rico Usthavia Frans menambahkan, salah satu tujuan Bank Mandiri mengakuisisi Inhealth adalah menjadi jalan agar Bank Mandiri bisa menjadi bank terbaik di Asia.
"Kenapa Bank Mandiri akuisisi Inhealth, itu karena ingin jadi the best bank in Asia, strateginya menguasai dana murah, harus bisa menangkap transaksi-transaksi nasabah, untuk itu fokus ke beberapa sektor, salah satunya health care, Inhealth kan pemain utama, leader di asuransi kesehatan yang bersifat manage care, jadi kita akan fokus ke situ, perkembangannya sangat baik," jelas Rico.
(drk/ang)











































