Soal BI Rate, Kemenkeu: Harus Selamatkan Sektor Riil

Soal BI Rate, Kemenkeu: Harus Selamatkan Sektor Riil

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Minggu, 08 Nov 2015 10:16 WIB
Soal BI Rate, Kemenkeu: Harus Selamatkan Sektor Riil
Bogor - Bank Indonesia (BI) membuka peluang untuk melonggarkan kebijakan di sisi moneternya melalui penurunan suku bunga acuan atau BI rate.

Peluang penurunan BI rate bisa dilakukan jika berbagai indikator makro ekonomi mendukung seperti tingkat inflasi yang rendah dan terjaganya nilai tukar rupiah di batas 'aman'.

BI memperkirakan angka inflasi di tahun ini di kisaran 3,6% atau lebih rendah dari perkiraan awal di angka 4% plus minus 1%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih naik-turun, namun di bulan Oktober lalu sempat mengalami perbaikan. Rupiah sempat menguat tajam di kisaran Rp 13.200/US$. Padahal, sebelumnya dolar AS sempat melesat nyaris ke level Rp 14.000.

Namun, secara akumulasi, rupiah masih melemah sekitar 10% di sepanjang tahun ini. Posisi rupiah yang dinilai belum 'aman' ini membuat BI 'tarik-ulur' menentukan arah suku bunganya.

Jika BI rate diturunkan, ada kekhawatiran aliran dana asing 'kabur' dari Indonesia sehingga akan menekan rupiah. Namun, di sisi lain, sektor riil juga perlu dijaga. Jika BI rate diturunkan, ini akan membuka peluang penurunan tingkat suku bunga oleh kalangan perbankan. Hal ini akan mendorong tumbuhnya sektor riil.

"Dalam situasi sekarang memang kita lihat tekanan di mata uang. Tapi kita harus selamatkan sektor riil kita. Yakni dari infrastruktur yang dibangun, insentif. Dunia usaha yakni UMP atau upah sektoral, juga pembiayaannya," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara dalam media briefing, di Hotel Harris, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (8/11/2015).

Menurutnya, sektor riil saat ini perlu terus digenjot untuk bisa merangsang pertumbuhan ekonomi. Penurunan BI rate akan sangat membantu.

"Kalau memang ada ruang agar pembiayaan sektor riil kita lebih murah ya kami dukung. Apalagi, kami ingin putar ekonomi. Meskipun faktor-faktornya harus diperhatikan. Ruang (pelonggaran) kami sepakat ada. Tapi pertimbangkan variabelnya. Inflasi, sudah kondusif. Tapi perlu perhatikan risikonya," jelas dia.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan menambahkan, dengan penurunan BI rate justru akan menambah likuiditas di sektor perbankan. Suku bunga kredit turun, akan menarik banyak pinjaman.

"Itu bisa dimanfaatkan sektor riil. Ini malah menambah likuiditas seharusnya," imbuh Robert.

(drk/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads