Mengintip Lembaga Penjaminan Kredit UMKM di Afrika

Mengintip Lembaga Penjaminan Kredit UMKM di Afrika

Lani Pujiastuti - detikFinance
Senin, 16 Nov 2015 14:17 WIB
Mengintip Lembaga Penjaminan Kredit UMKM di Afrika
Foto: Lani/detikFinance
Nusa Dua - Delegasi lembaga penjaminan kredit dari 11 negara tengah berkumpul dalam International Guarantee Seminar di Nusa Dua, Bali. Masing-masing menyampaikan pengalaman khususnya menjadi penjamin kredit bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Salah satunya yaitu Bentum, Managing Director Exim Guaranty Ghana, seorang delegasi dari Ghana yang menyampaikan implementasi beberapa skema penjaminan kredit di negara-negara di benua Afrika.

"Peran lembaga penjamin di Afrika sangat besar bagi UKM di sana dengan 95% dari usaha penduduk Afrika merupakan skala UKM. UKM di Afrika Selatan 50% gagal kurang dari lima tahun," kata Zac dalam International Guarantee Seminar di Westin Hotel, Nusa Dua, Bali, Senin (16/11/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Zac menuturkan ada beberapa tantangan memberikan kredit di Afrika. "Tantangan di Afrika, kurangnya akses, agunan tidak cukup, pemerintah tidak mendukung pendanaan karena UKM punya risiko tinggi. Dari sisi UKM, masih banyak yang sangat primitif dan kurang akses informasi serta teknologi," ungkap Zac.

Menurutnya, UKM tidak mempunyai profil kredit yang cukup bankable karena tidak memiliki riwayat kredit usaha yang cukup. Sektor UKM pun kini menjadi tumpuan Ghana pasca berakhirnya masa emas menjadi negara eksportir minyak.

"Ketika Ghana menjadi eksportir minyak mentah, orang lokal tidak begitu didukung. Padahal harusnya menjadi peluang penduduk asli. Saat ini, UKM menjadi penopang sumber pendapatan masyarakat asli Ghana," jelas Zac.

Kredit penjaminan, kata Zac, di Africa sangat diperlukan UKM. Di sisi lain, dengan tingginya angka kemiskinan dan besarnya jumlah UKM menjadi tantangan resiko tersendiri.

"UMKM sangat perlu lembaga kredit penjaminan di Africa karena tantangan yang dihadapi UKM untuk mengakses kredit cukup sulit, sementara di sisi lain pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut ditopang oleh sektor UKM. Tantangan kami, sebagai lembaga penjaminan yaitu untuk meningkatkan akses baik kelompok maupun individual. Tentu dengan resiko yang harus diantisipasi," tambahnya.

Zac menyampaikan beberapa studi kasus dan dampak penerapan jaminan kredit di Africa. Contohnya sebuah skema penjaminan kredit yang sudah dimulai sejak 2012. Skema ini diimplementasikan di Nigeria dan Libya. Tahun 2014 modalnya sudah mencapai US$ 171 miliar dengan tenor kredit bisa mencapai 55 bulan.

"Kemudian di Togo, ada kredit UMKM mencapai US$ 1,8 miliar. Di Nigeria, ada lembaga penjaminan kredit khusus sektor pertanian. menjangkau 900.000 petani dengan modal US$ 30 juta dollar. Lalu Exim Guaranty Ghana bisa menjamin sampai pendanaan ekspor UMKM dengan tenor 18-24 bulan dengan nilai portofolio sudah mencapai US$ 100 juta," terang Zac.

Sebagai lembaga penjaminan kredit di negara berkembang, Zac mengatakan, peran lembaga tersebut sangat penting bagi UKM. "Meski risiko dan tantangannya besar, manfaatnya tidak kalah besar bagi UMKM. Maka sebagai lembaga penjamin harus memiliki risk management yang baik," pungkasnya.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads