Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS) diprediksi bakal menaikan suku bunga acuan bulan depan. Hal ini didukung oleh data sektor tenaga kerja di AS yang menunjukan penurunan pengangguran dan pertambahan gaji
Jika The Fed jadi menaikan suku bunga, menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, hal itu akan berdampak terhadap pasar keuangan global. Khususnya mata uang di berbagai negara berkembang. Rupiah berpeluang mengikuti arah mata uang lain yang melemah terhadap dolar AS.
Tentunya BI telah menyiapkan berbagai antisipasi. Salah satunya dengan menahan suku bunga acuan pada level 7,50%. Diharapkan tentunya reaksi pasar tidak berlebihan dan mendorong kestabilan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perry menyebut kondisi ini sebagai ketidakpastian. Tentunya reaksi pasar akan muncul beberapa waktu sebelum rapat FOMC (Federal Open Market Committee) atau rapat dewan gubernur bank sentral AS dimulai, sampai pada akhirnya keputusan dibacakan.
"Jadi ketidakpastian di pasar global karena kemungkinan-kemungkinan itu. BI sudah menyiapkan antisipasi, tapi menag reaksi pasar yang sulit dikendalikan," paparnya.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menambahkan, keputusan The Fed sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Respon dari investor pun sudah dimulai sejak 2013, ketika The Fed mengumumkan penghentian stimulus quantitative easing yang diluncurkan beberapa tahun sebelumnya.
"Kami paham kita harus perhatikan situasi eksternal, bahwa The Fed akan meningkatkan suku bunga dan diketahui oleh pasar sejak lama, meski secara gradual, maka dari itu kami tetap berhati-hati," kata Mirza pada kesempatan yang sama.
(mkl/hns)











































