Dapat Ilmu dari 11 Negara, Jamkrindo Ingin UMKM Mudah Dapat Kredit

Dapat Ilmu dari 11 Negara, Jamkrindo Ingin UMKM Mudah Dapat Kredit

Lani Pujiastuti - detikFinance
Rabu, 18 Nov 2015 13:12 WIB
Dapat Ilmu dari 11 Negara, Jamkrindo Ingin UMKM Mudah Dapat Kredit
Foto: Lani/detikFinance
Nusa Dua - Jamkrindo mengungkapkan selama ini perannya masih berada di belakang perbankan atau follow the bank untuk menggenjot penyaluran kredit bagi UMKM seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Lembaga penjaminan kredit pelat merah itu pun kemudian mempelajari skema penjaminan dari lembagaβ€”lembaga di berbagai negara yang hadir dalam konferensi internasional lembaga penjaminan bertajuk The 28th Asian Credit Supplementation Institution Confederstion (ACSIC) pada 16-20 November 2015 di Nusa Dua, Bali, Rabu (18/11/2015).

Jamkrindo akan coba mengaplikasikan skema agar lembaga penjaminan tersebut punya peran aktif menggaet UMKM untuk mengakses kredit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah dari perspektif UMKM sudah berupaya memberi kemudahan akses kredit. Skema yang selama ini kita jalankan lebihi dominan CAC. Jadi kita selama ini mengikuti bank. Tapi negara-negara lain, sudah bisa jalan bersama antara lembaga penjaminan dengan perbankan. Lembaga penjaminan juga bisa jalan menggaet UMKM," ungkap Diding S. Anwar, Direktur Utama Perum Jamkrindo ditemui usai penutupan The 28th ACSIC Conference di Nusa Dua, Bali, Rabu (18/11/2015).

Diding menjelaskan, UMKM yang dijalankan oleh perorangan pun bisa naik kelas menjadi berkelas internasional dengan dukungan kemudahan akses pembiayaan.

"FIAT, Ferarri, Gucci, itu contoh perusahaan yang mulanya perseorangan. Dengan.dukungan pembiayaan, diharapkan usaha pecel pun bisa mendunia. Tugas Jamkrindo adalah meningkatkan asistensi UMKM," jelas Diding.

Dalam konferensi tersebut, Diding yang sekaligus menjabat Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) bersama Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad meluncurkan lembaga pemeringkat UMKM. Termasuk memberikan sertifikat pemeringkat bagi 11 UMKM yang sudah berhasil naik kelas.

"Saat exhibiton kemarin kami berikan sertifikat pemeringkat kepada sebelas UMKM. Kita menunjukkan UMKM yang bisa unggul berdaya saing di tengah pasar yang makin borderless seperti pasar MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang akan kita hadapi. Tugas kami, UMKM setelah didukung dengan payung hukum, penjaminan sudah eksis, tidak, hanya atasi bisa teratadi kesulitan collateralnya. Tapi bisa memberi pendampingan. Misalnya soal kemasan dan upaya menembus pasar ekspor," terang Diding.

Lembaga pemeringkat masih berupa perintisan yang akan dikeola oleh Asippindo. Diding melihat, dengan jumlah UMKM yang mencapai 58 juta unit, Ia harap sebagian besar bisa naik kelas.

Peran penting lembaga pemeringkat pun diharapkan tidak hanya bekerja secara profit oriented, melainkan tujuannya untuk membantu UMKM naik kelas.

"Pemeringkat UMKM baru pertama dirintis di Indonesia tapi ternyata di negara lain sudah jadi tools memberi kredit UMKM. Pemeringkat UMKM setelah dilaunching, harus diimplementasikan. Bukan hanya rating dapat sertifikat. Dengan mendapat rating, UMKM bisa dapat kemudahan akses pembiayaan dari perbankan maupun non perbankan," tambah Diding.

Keputusan dari ACSIC Conference, selain belajar tentang skema penjaminan dari berbagai negara, konferensi tersebut memutuskan tuan rumah ACSIC Conference untuk dua tahun ke depan.

"Tuan rumah ACSIC Conference tahun depan di Thailand dan tahun depan Filipina. Mongolia masuk jadi member baru. Secara lokal tingkat nasional, diharapkan lemnaga penjaminan swasta juga mulai bergabung menjadi anggota Assipindo," pungkasnya.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads