Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, tahun sebelumnya kondisi perekonomian nasional seperti inflasi, defisit berjalan cukup terkendali, bahkan mengalami penurunan.
"Tekanan terhadap stabilitas ekonomi tahun ini begitu kuat, muncul dari segala arah, dan seakan-akan sebagai sebuah dimensi konstan yang terus menerus mengikuti langkah kita," kata Agus, dalam 'Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2015', di Assembly Hall JCC, Senayan, Selasa (24/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tiga variabel utama dunia terdiri dari pertumbuhan ekonomi, harga komoditas dan aliran modal ke negera berkembang, bergerak dalam arah yang berbeda paska krisis keuangan global 2008," jelas Agus.
Agus menambahkan, tekanan yang cukup besar juga muncul kepada ekonomi negara berkembang lain, terutama negara-negara yang bergantung pada komoditas sumber daya alam. Rusia dan Brasil yang ekspornya berbasis komoditas bahkan tengah memasuki resesi ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun ini juga diperkirakan menurun menjadi 3,1% dari sebelumnya yang mencapai 3,4% pada 2014.
Tekanan lainnya juga semakin bertambah, ketika otoritas moneter Tiongkok pada Agustus 2015, tanpa diduga sebelumnya melakukan devaluasi mata uang yuan, sehingga memicu terjadinya gejolak di pasar keuangan global.
"Kesemuanya itu menyebabkan arus modal asing ke negara berkembang menurun drastis, termasuk Indonesia dan menurunkan pasokan valuta asing secara signifikan bahkan pembalikan modal asing juga menekan hampir seluruh mata uang termasuk rupiah," tandasnya.
(drk/dnl)











































