Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, ada ketidakadilan di negara ini, yaitu bunga kredit untuk UKM lebih mahal dibandingkan kredit untuk korporasi atau perusahaan besar.
"Pemerintah hanya bisa memperbaiki sektor UKM, dengan menurunkan bunga KUR dari 22 menjadi 12%. Masak bunga (kredit) korporasi lebih rendah 10% dari (kredit) UKM. Karena itu pemerintah menurunkan bunga KUR berapa pun biayanya. Selama ini lebih mahal bunga UKM dibanding korporasi," jelas JK dalam 'Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2015', di Assembly Hall JCC, Senayan, Selasa (24/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di depan acaranya yang dihadiri Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad, sejumlah menteri, dan petinggi perbankan, JK meminta agar bunga kredit diturunkan.
"Kita tidak mungkin membangun apabila bunga (kredit) tinggi. Bila bunga tinggi maka pasti investasi rendah," jelas JK.
Selain itu, JK juga menyinggung soal tingginya bunga deposito perbankan yang masih di kisaran 8-10%. Sementara di sisi lain, pemerintah ingin mendorong investasi di bursa saham.
Β
"Selama bunga deposito 8-10% orang lebih pilih deposito. Kalau bunga deposito rendah 4% pasti orang beli saham. Kontradiksi ini harus diselesaikan," ungkap JK.
Terkait tingginya bunga kredit perbankan, ujar JK, pemerintah mencoba melakukan efisiensi dengan cara menekan biaya logistik dan birokrasi. Sehingga ekonomi bisa efisien, inflasi turun, dan bunga menjadi rendah.
(dnl/hns)











































