Agus mengatakan, memang saat ini telah terjadi sejumlah perbaikan ekonomi di dalam negeri, misalnya tingkat inflasi di 2015 diperkirakan di bawah 4%, lebih rendah dibandingkan periode 2013-2014. Selain itu, defisit transaksi berjalan di 2015 diperkirakan sebesar US$ 18 miliar dolar, lebih kecil jika dibandingkan dengan capaian 3 tahun terkahir.
Namun, menurut Agus, untuk menurunkan BI rate tidak hanya mengacu pada kondisi perekonomian dalam negeri, melainkan juga kondisi ekonomi global. Agus menyebut 3 kondisi ekonomi global yang membuat BI masih menahan suku bunga acuan di level 7,5%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, harga komoditi mentah dalam 3 tahun terakhir turun. Ketiga, kenaikan tingkat suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan akan terjadi bertahap. Menurut Agus, kenaikan tingkat suku bunga itu akan membuat dana asing dari negara berkembang cenderung keluar ke pasar keuangan AS.
"Meningkatnya suku bunga (AS) akan bertahap dari 0,25 menjadi 1,125, mungkin nanti menjadi 3,625. Jadi dolar cenderung menguat dan itu akan membawa tekanan di dunia. Apalagi selama beberapa bulan terakhir terjadi perbaikan ekonomi di AS," kata Agus Martowardojo dalam acara Economic Challenges, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (1/12/2015).
Agus menambahkan, membaiknya defisit transaksi berjalan serta laju inflasi yang terkendali memang menjadi peluang untuk menghadapi dampak kenaikan tingkat suku bunga The Fed. Namun, kata Agus, perlu diingat bahwa Indonesia menjalankan sistem ekonomi terbuka, artinya siapapun bisa menaruh modalnya di rupiah atau mata uang asing tanpa batasan.
(mkl/hns)











































