Harga komoditas diperkirakan masih akan terus merosot. Bahkan, di tahun ini meleset dari perkiraan, semula koreksi harga komoditas hanya akan di level 3%, namun pada kenyataannya hingga mencapai angka 9,9%.
"Ketidakpastian tinggi sekali, harga komoditas tak berhenti-berhenti menurun, ke depan masih akan terkoreksi," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo dalam acara MoU OJK dan BI Tentang Kerjasama dan Koordinasi Penanganan Sistem Informasi Debitur (SID), di Menara Radius Prawiro, Gedung BI, Jakarta, Kamis (3/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan akan berada di level 5,2-5,6%. Sementara di tahun 2017-2019 akan berada di kisaran 6-6,9%.
"Kita syukuri di Indonesia stabilitas tetap terjaga, optimis ke depan lebih baik," ucap dia.
Selain itu, Agus mengungkapkan, inflasi di Indonesia saat ini tetap terjaga di level rendah. Hingga akhir tahun ini, inflasi akan bergerak di bawah 3%.
"Inflasi sudah lebih meyakinkan di tahun 2015 di bawah 3% sepanjang tahun, 2 tahun terakhir 8,3%, nah itu tentu kita syukuri. Neraca perdagangan sepanjang tahun ini akan surplus, kita optimis ke depan lebih baik," sebut dia.
Apa yang membuat Agus optimistis?
Dia menyebutkan, ada beberapa kekuatan, di antaranya bonus demografi. Menurutnya dalam 15 tahun ke depan, bonus ini akan menjadi pendorong ekonomi Indonesia.
Selain itu, komitmen pemerintah untuk reformasi struktural, mulai dari pengelolaan subsidi BBM, dan kebijakan ekonomi akan mendorong kekuatan ekonomi Indonesia ke depan.
"BI da OJK selalu bisa jaga sistem keuangan stabil dan kondisi terkendali, bahkan publik mengatakan bahwa salah satu kekuatan Indonesia, semakin dewasa dalam berdemokrasi, walaupun kadang terlalu aktif tapi tetap bisa terjaga," tandasnya.
(drk/ang)











































