Kapan BI Rate Turun? Darmin: Jangan Provokasi Terlalu jauh

Kapan BI Rate Turun? Darmin: Jangan Provokasi Terlalu jauh

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 07 Des 2015 17:10 WIB
Kapan BI Rate Turun? Darmin: Jangan Provokasi Terlalu jauh
Jakarta - Suku bunga acuan atau yang sering disebut BI Rate menjadi perhatian penitng dalam kondisi sekarang. Pemerintah berulang kali meminta agar Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga, sementar BI selaku pemegang otoritas berkata tunggu dulu.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengakui menariknya persoalan ini dibahas di depan publik. Apalagi sebelumnya jabatan Darmin adalah Gubernur BI sebelum pensiun dan digantikan oleh Agus Martowardojo.

"Ada yang katakan bunga diturunkan. Ada yang katakan nanti dulu, capital outflow-nya besar. Bagaimana cari titik optimumnya. Saya masih coba menahan diri untuk tidak provokasi terlalu jauh. Nanti kita cari jalannya pelan-pelan," ungkap Darmin dalam acara Investor Gathering di Gedung Dhanapala, Jakarta, Senin (7/12/2015)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Darmin akan membicarakan hal ini secara langsung dan lebih rinci kepada Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dan Gubernur BI Agus Marto. Menurutnya, bila disampaikan di depan publik justru akan menambahkan kegaduhan yang akhirnya justrus melahirkan sentimen negatif.

"Tidak baik juga gaduh. Saya bicara dengan Menkeu dan Gubernur BI nanti. Mencari solusi bukan melahirkan kegaduhan," ujar Darmin sambil tertawa.

Secara umum, Darmin melihat kebijakan makro ekonomi, baik dari sisi fiskal dan moneter dituntut untuk penuh kehati-hatian. Namun bukan berarti harus terus menerus bertahan di posisi aman.

"Kebijakan fiskal dan moneter yang prudent dalam situasi ini? Saya artikannya, suatu kebijakan yang bukan sekedar mau aman tapi tidak punya daya ungkit ke dalam perekonomian. Cuma kalau terlalu nekad sehingga jadi bertaruh dengan nasib republik itu sangat salah. Jadi prudent adalah bagaimana berhati-hati tapi tidak kehilangan upaya untuk mendoronf atau ciptakan daya ungkit," paparnya.

Dari sisi fiskal, sekarang sudah ada dorongan yang cukup agresif terhadap pertumbuhan ekonomi. Khususnya dari sisi belanja pemerintah. Sedangkan dari sisi moneter juga ada dorongan, meski tidak terlalu agresif.

"Kebijakan fiskal, ya jangan terlalu berani gamblang tapi jangan juga defensif. Moneter juga begitu jangan mau aman saja kemudian kehilangan daya dorong terhadap pertumbuhan ekonomi. Kalau masuk ke dalam ini menarik tapi saya hindari saja perbedaan pendapat. Di kesempatan lain saja," tukas Darmin.

(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads