PT Bank Tabungan Negara (BTN) tercatat sebagai bank paling berkomitmen dalam menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi di tahun 2015 meskipun anggaran pemerintah lewat Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebesar Rp 5,1 triliun telah habis sejak Juni 2015 lalu. Tidak hanya itu, BTN optimistis menyalurkan KPR dengan skema FLPP untuk lebih dari 200 ribu unit rumah.
"Saya tadi ngobrol dengan Pak Maryono (Direktur Utama BTN), BTN akan bisa membiayai hingga 261 ribu rumah dengan skema FLPP sampai akhir tahun 2015. Artinya 4 kali lipat dibandingkan target pemerintah yang hanya sekitar 61 ribu unit saja," ujar Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Maurin Sitorus di sela-sela acara BTN Outlook Ekonomi, Perbankan dan Property 2016 dalam rangka HUT KPR BTN ke 39, di Kempinsky Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis (10/12/2015).
Maurin mengatakan, pemerintah sebenarnya mengimbau agar seluruh Bank pelaksana tetap menyalurkan KPR Subsidi di tahun 2015 dengan menggunakan dana internal masing-masing perbankan. Pemerintah akan mengganti dana yang sudah dikeluarkan lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tahun berikutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, penyaluran tersebut tak banyak dilakukan oleh Bank-bank pelaksana penyalur KPR.
"Sampai sekarang baru BTN yang masih melakukan penyaluran tersebut. Bank lainnya belum," sambung maurin.
Hal tersebut bisa terlihat dari jumlah perumahan yang sudah dibiayai oleh BTN dengan menggunakan skema KPR FLPP yakni uang muka atau DPR KPR 1%, bunga KPR 5% tetap selama 20 tahun dan bantuan uang muka Rp 4 juta/rumah.
Di tahun 2016 sendiri kata Maurin, Pemerintah akan menganggarkan dana FLPP sebesar Rp 9,2 triliun. Dari anggaran tersebut, sebagiannya akan digunakan untuk membayar dana FLPP tahun 2015 yang ditalangi BTN, sementara sebagiannya untuk membiayai KPR Subsidi baru.
FLPP adalah dana bergulir yang disediakan pemerintah untuk membiayai subsidi KPR terhadap Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang selama ini sulit memiliki rumah karena kemampuan keuangannya sangat terbatas.
(dna/hns)











































