Pasca Kenaikan BBM, Yield Obligasi Cenderung Naik

Pasca Kenaikan BBM, Yield Obligasi Cenderung Naik

- detikFinance
Jumat, 04 Mar 2005 11:57 WIB
Jakarta - Tren tingkat imbal hasil atau yield obligasi terutama surat utang negara mengalami kenaikan pasca kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang berakibat pada turunnya harga obligasi. Investor obligasi juga lebih memilih berhati-hati mengurangi pembelian obligasi dalam jumlah besar. Hal ini diutarakan Yudhi Ismail, Direktur Eksekutif Perhimpunan Pedagang Surat Utang Negara (Himdasun) di Gedung Bursa Efek Jakarta, Jumat,(4/3/2005)."Antara bulan Januari ke Februari yield lebih rendah, sedangkan pada Februari ke Maret ada kecenderungan naik, dimana pada Maret lebih tinggi yieldnya jadi harga obligasi turun. Sebelum BBM naik transaksi SUN Januari 2005 sampai Rp 61 triliun, Februari juga sekitar itu, tapi untuk Maret cenderung turun jauh," papar Yudhi. Harga SUN pada bulan Januari menurut Yudhi mengalami kenaikan yang cukup tinggi hingga 60 basis poin, yang meliputi obligasi berjangka waktu satu tahun atau yang sepuluh tahun."Bisa dikatakan pada Januari atau Februari kenaikan harga obligasi rata-rata 20-30 basis poin, sedangkan sekarang harganya terus mengalami penurunan," katanya. Menurut Yudhi, investor mulai memilih hati-hati dalam mencermati tren pasar terutama pengaruh inflasi yang diprediksi naik setelah kenaikan BBM. "Kalau inflasi tidak terkendali maka banyak yang jual semua karena tingkat suku bunga akan naik. Kenaikan suku bunga sedikit saja, akan direspon negatif karena pengaruhnya harga obligasi bisa turun dan yield jadi naik," ujar Yudhi yang menyayangkan sikap pemerintah menaikkan BBM, karena menurutnya masih banyak solusi lain seperti pemberantasan illegal loging. REPO Segera Diluncurkan Yudhi juga menjelaskan, dalam pertemuannya dengan Bank Indonesia (BI), diperkirakan master repo agremeent (MRA) atau perjanjian induk membeli kembali akan siap diluncurkan pada awal April 2005. Meski sudah diluncurkan transaksi Repo tidak serta merta berjalan. "Tapi kita harapkan transaksi Repo jedanya jangan terlalu lama dengan saat peluncuran MRA,"katanya. Transaksi repo adalah transaksi penjualan obligasi, dengan perjanjian yang memberi hak penjual untuk membeli kembali obligasi tersebut dalam jangka waktu tertentu. Adapun MRA adalah satu perjanjian induk di mana terdapat seluruh klausul legal yang akan diikuti pihak-pihak yang akan melakukan transaksi repo. Menurut Yudhi, BI juga berkepentingan terhadap pasar repo sebagai pengganti lelang SBI (Sertifikat Bank Indonesia) sedangkan anggota Himdasun berkepentingan agar bisa melakukan hedging (lindung nilai). Untuk menjaga harga obligasi tersebut, BI juga bisa melakukan pembelian SUN sebelum nanti dijual lagi ke pasar. (qom/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads