Dolar AS kian perkasa terhadap rupiah hingga menembus level Rp 14.000. Meski demikian, tekanan terhadap rupiah hanya bersifat sementara. Secara fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi baik.
"Fundamental ekonomi Indonesia masih bagus. Impact The Fed ke rupiah hanya sementara. Kami tidak melihat signifikan, tidak long lasting," kata Ekonom Utama Bank Dunia, Ndiame Diop dalam Indonesia Economic Quarterly (IEQ), di Soehanna Hall, Energy Building, Jakarta, Selasa (15/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi soal penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), Ndiame menyebutkan, saat ini level BI rate masih terlalu tinggi.
"BI rate masih tinggi, inflasi sudah rendah, tapi Indonesia juga harus antisipasi kenaikan Fed fund rate," kata Ndiame.
Dalam kesempatan yang sama, Ekonom Raden Pardede menjelaskan, saat ini angka inflasi sudah perlahan menurun atau menunjukkan perbaikan. Seperti diketahui, inflasi adalah salah satu indikator dalam menyesuaikan suku bunga acuan BI.
Melihat hal tersebut, seharusnya ada ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunganya.
Bank Dunia memperkirakan angka inflasi Indonesia di tahun ini sebesar 6,2% dan 4,6% di tahun 2016. Artinya, inflasi perlahan membaik.
"Melihat itu ada ruang untuk menurunkan BI rate. Suku bunga di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi. Saya pikir ini penting bagi BI dan pemerintah untuk sama-sama memikirkan ini," katanya.
Raden menambahkan, meskipun nantinya BI memangkas suku bunga acuannya, hal tersebut masih tetap menarik bagi investor.
"Diperkirakan The Fed akan naikkan 25 bps. Saya yakin, walaupun BI rate turun, masih menarik bagi investor," pungkasnya.
(drk/ang)











































