"Wajar ketika ekonomi membaik itu impornya naik," kata Juda Agung, Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (15/12/2015)
Juda mengatakan, dampak kenaikan impor ini akan terlihat pada pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2015. Proyeksi BI, ekonomi pada kuartal terakhir tahun ini akan tumbuh 4,8%, atau lebih tinggi dari kuartal III yang sebesar 4,73%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lonjakan impor memang akan memberikan pengaruh terhadap neraca transaksi berjalan. Akan tetapi, melihat kenaikan impor dan terjaganya ekspor, maka defisit transaksi berjalan masih akan tetap sesuai perkiraan, yaitu 2% terhadap PDB di akhir tahun.
"Kalau ekonomi bergerak, impor akan meningkat, tapi sejauh itu masih bisa dicover dari ekspor yang membaik saya kira tidak masalah," terangnya.
Membaiknya ekonomi, kata Juda, sekaligus memberikan optimisme bagi kalangan investor tahun depan. Target pertumbuhan ekonomi 5,3% juga bukan hal yang mustahil untuk direalisasikan tahun depan.
"Tahun depan masih sehat untuk CAD (current account deficit/defisit transaksi berjalan), bahkan kalau pertumbuhan di luar perkiraan itu juga tidak masalah. Selama kita menjaga optimisme itu akan mendorong perekonomian," tegas Juda.
(mkl/dnl)











































