Bank Indonesia (BI) telah memperkirakan kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed). BI telah mengantisipasi Baik dari sisi waktu pengambilan keputusan, maupun besaran kenaikan yang ditetapkan 0,25 basis poin menjadi 0,50%.
Deputi Gubernur BI Ronald Waas menyebutkan perhitungan ini sudah dimulai sejak penyataan The Fed yang mengakhiri masa quantitative easing (qe) pada 2013. Ada keinginan AS untuk memompa kembali pertumbuhan ekonomi dan tentunya harus diimbangi dengan kebijakan moneter.
Kenaikan suku bunga artinya sudah pasti akan dilakukan, meskipun harus melihat pertimbangan data ekonomi secara keseluruhan, khususnya inflasi dan tenaga kerja. Dalam rentang waktu tersebut ternyata diputuskan kenaikan pada Desember 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk besaran kenaikan, juga sudah dikomunikasikan beberapa waktu sebelumnya. Dimungkinkan akan berlangsung bertahap dalam beberapa periode. Artinya, secara keseluruhan antisipasi sudah dilakukan oleh BI dan pelaku pasar keuangan tidak perlu panik.
BI akan terus memantau reaksi pelaku pasar pasca keputusan tersebut. Meskipun dalam beberapa jam terakhir pasar bereaksi positif. Beberapa instrumen siap diluncurkan oleh BI bila kemudian ada gejolak yang muncul secara tiba-tiba.
"Kalau risiko selalu ada mau ada keputusan atau tidak, kita tunggu saja ya. Nanti kita lihat, masih hitungan jam, Ini baru beberapa reaksi," tegas Ronald.
(mkl/hns)











































