Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) menaikan tingkat suku bunga, ternyata tidak memicu dampak berarti bagi pasar keuangan Indonesia. Mengacu pada kondisi ini, Bank Indonesia (BI) diminta untuk memangkas tingkat suku bunga acuan atau BI rate.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (17/12/2015) memutuskan BI rate tetap ditahan pada posisi 7,5%. Lalu, bagaimana sikap Gubernur BI, Agus Martowardojo, menanggapi desakan untuk memangkas suku bunga?
Menurut Agus, BI melihat perbaikan indikator ekonomi domestik maupun kondisi ekonomi global. Kedua faktor ini membuka kesempatan untuk mengkaji tingkat suku bunga acuan bulan depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kajian itu BI akan menilai kondisi ekonomi lokal dan global yang terjadi pada Januari 2016 nanti. Berkaitan dengan kondisi ekonomi lokal, BI menyoroti potensi tekanan inflasi yang bersumber dari bahan pangan, khususnya beras, serta kebijakan pemerintah mengalihkan pelanggan listrik 900 VA yang tidak layak menerima subsidi ke 1300 VA.
Selama ini pemerintah hanya memberikan subsidi tarif listrik kepada pelanggan 450 VA dan 900 VA.
"Yang terkait administered price ini mempengaruhi inflasi, tahun depan kan 4% plus minus 1%," kata Agus.
Sedangkan untuk ekonomi global, menurut Agus, BI tetap memperhatikan tiga faktor yaitu kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya, serta quantitative easing Eropa dan Jepang, serta kondisi perekonomian China.
"Ini hal-hal yang kita amati. Rasa optimisme kita untuk melonggarkan moneter," kata Agus
(hns/rrd)











































