Desakan kepada Bank Indonesia (BI) untuk memangkas tingkat suku bunga acuan atau BI rate terus mengalir. Namun, Gubernur BI Agus Martowardojo enggan terburu-buru mengambil keputusan.
Agus mengatakan, BI akan mengkaji terlebih dulu berdasarkan pada kondisi ekonomi lokal maupun global. Berkaitan dengan kondisi ekonomi lokal, BI menyoroti potensi tekanan inflasi yang bersumber dari bahan pangan, khususnya beras, serta kebijakan pemerintah mengalihkan pelanggan listrik 900 VA, yang tidak layak menerima subsidi, ke 1300 VA.
Selama ini pemerintah hanya memberikan subsidi tarif listrik kepada pelanggan 450 VA dan 900 VA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan untuk ekonomi global, menurut Agus, BI tetap memperhatikan tiga faktor yaitu kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya, serta quantitative easing Eropa dan Jepang, serta kondisi perekonomian China.
"Ini hal-hal yang kita amati. Rasa optimisme kita untuk melonggarkan moneter," ujar mantan Menteri Keuangan itu
Agus menambahkan, keputusan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve memberikan kepastian terhadap kondisi ekonomi dunia. Oleh sebab itu, BI melihat ada peluang untuk melonggarkan kebijakan moneter.
"Ruang untuk melonggarkan moneter terbuka, kita hanya memerlukan waktu untuk konfirmasi sehingga kita akan melihat ini di Januari," tutur Agus
(hns/ang)











































