Tingkat inflasi yang terjaga, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang stabil, diperkirakan menjadi pertimbangan BI menurunkan suku bunga acuannya.
Demikian dikatakan Ekonom Senior Mandiri Sekuritas, Leo Putra Rinaldy, dalam Economic Outlook Mandiri, di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (21/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Leo, meskipun BI Rate dipangkas hingga 50 bps, namun angka BI Rate masih tetap tinggi dibanding negara lainnya.
Sehingga, meskipun bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya hingga 70 bps, tingkat imbal hasil di Indonesia tetap menarik bagi investor lewat kenaikan BI Rate tersebut.
"Secara historikal masih in line kalau BI Rate 7%, walaupun (bunga acuan) Fed naik ke 1-1,25%, suku bunga Indonesia masih menarik, kita masih tertinggi ketiga di dunia," terang dia.
Bahkan, kata Leo, bank sentral China sudah menurunkan suku bunga acuannya hingga 5 kali dan melakukan penyesuaian terhadap Giro Wajib Minimum (GWM).
"Bank sentral China sudah menurunkan 5 kali rate-nya dan GWM," katanya.
(drk/dnl)











































