Investasi Internasional RI Didominasi Utang

Investasi Internasional RI Didominasi Utang

Lani Pujiastuti - detikFinance
Rabu, 30 Des 2015 17:15 WIB
Investasi Internasional RI Didominasi Utang
Foto: Lani - detikFinance
Jakarta -

Investasi Internasional Indonesia hingga kuartal III-2015 masih didominasi dalam bentuk utang.

Terlihat dari Statistik Posisi Investasi Internasional Indonesia (PIII), ditinjau dari jenis investasinya, kewajiban lebih besar dari aset.

Total kewajiban mencapai US$ 537,4 miliar atau 71,9%, sedangkan aset hanya US$ 210,1 miliar atau 28,1%. Kewajiban bersihnya sebesar US$ 327,4 miliar atau 37,8% dibanding Produk Domestik Bruto (PDB).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Direktur Eksekutif Statistik Bank Indonesia (BI) Hendy Sulistiowati, tidak masalah dengan investasi dalam bentuk kewajiban termasuk di dalamnya utang yang jauh lebih besar dibanding aset.

BI mencatat, investasi dalam bentuk kewajiban termasuk di dalamnya utang (investasi lainnya) porsinya mencapai 28,15% atau senilai US$ 151,3 miliar.

"Kita utangnya besar untuk membangun. Kita pilih utang dalam jangka panjang, sedangkan investasi untuk jangka pendek. Kewajibannya besar nggak masalah, tergantung jenis kewajibannya kemana," kata Hendy dalam Bincang-Bincang Media di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2015).

Investasi dalam bentuk kewajiban termasuk utang yang lebih besar dari aset, menurut Hendy, banyak ditemui di negara-negara berkembang.

Sebab, negara berkembang sedang terus membangun dan butuh utang. Sejak tahun 1990-an, kewajiban swasta terus naik hingga melampaui kewajiban dari sisi pemerintah.

"Semua negara berkembang akan lebih besar kewajiban dibanding aset. Negara berkembang seperti kita terus melakukan pembangunan dan itu dari dana utang. Saat ini kecenderungannya pun telah bergeser, utang swasta lebih besar dibanding utang pemerintah. Swasta sudah punya kemampuan dan bisa membangun jadi mulai banyak utang swasta ke luar negeri," tutur Hendy.

Investasi internasional Indonesia berbentuk kewajiban terdiri dari investasi langsung (foreign direct investment) sebesar 38,9%, investasi portofolio misal dengan pembelian surat utang negara sebesar 32%, investasi lainnya misalnya dalam bentuk seperti utang luar negeri sebesar 28,15% dan sisanya merupakan derivatif finansial.

Sementara investasi internasional Indonesia dalam bentuk aset didominasi oleh investasi dalam bentuk cadangan devisa yaitu mencapai US$ 101,7 miliar.

Cadangan devisa tersebut nilainya mencapai 48,4% dari total investasi dalam bentuk aset US$ 210,1 miliar hingga kuartal III-2015.

Posisi Investasi Internasional Indonesia (PIII) menunjukkan nilai investasi langsung pada kuartal III-2015 sebesar US$ 167,64 miliar.

Investasi tersebut tersebut turun 10,3% dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai US$ 186,9 miliar.

Investasi langsung berdasarkan arah investasi lebih besar mengalir ke domestik dibanding ke luar negeri. Sebesar 85,3% investasi langsung mengalir ke domestik berupa Penanaman Modal Asing (PMA) senilai US$ 196,5 miliar.

Investasi langsung luar negeri melalui pembelian saham sebesar US$ 28,86 miliar atau 14,7%.

"Investasi langsung yaitu investasi ke saham dengan kepemilikan 10%. Investasi langsung domestik misalnya kita investasi ke saham Toyota di Indonesia yang investasinya dari Jepang," ujar Hendy.

Β 

Cadangan Devisa RI Terus Turun


Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa Indonesia hingga kuartal III-2015 tercatat sebesar US$ 101,7 miliar atau turun 5,8% selama 3 bulan. Pada kuartal II-2015, cadangan devisa berada pada level US$ 108,03 miliar, sedangkan pada kuartal I-2015 tercatat US$ 111,5 miliar.

Sepanjang 2015, posisi cadangan devisa terus turun. Posisi cadangan devisa saat ini mencerminkan 48,4% dari total investasi internasional dalam bentuk aset.

"Bagian terbesar dari aset kita yaitu cadangan devisa sebesar US$ 101,7 miliar. Aset kebanyakan cadangan devisa jangka pendek sebab untuk menjaga likuiditas," kata Hendy.

Turunnya cadangan devisa membuat investasi dalam bentuk aset pun ikutan turun 2,1% menjadi US$ 210 miliar dari triwulan II-2015 sebesar US$ 214,47 miliar. Posisi Investasi Internasional Indonesia (PIII) menunjukkan penggunaan dana dalam bentuk aset tersebut jumlahnya hanya 39,1% dibanding kewajiban.

Dari sisi investasi internasional dalam bentuk kewajiban pada kuartal III-2015 membaik dibanding kuartal II-2015. Kewajiban di antaranya dalam bentuk investasi langsung, investasi portofolio, derivatif finansial, dan investasi lainnya (utang dagang, uang muka, pinjaman, uang kertas asing dan simpanan).

Kewajiban total turun 7,9% dari US$ 583,5 miliar pada kuartal II-2015 menjadi US$ 537 miliar pada kuartal III-2015. Secara net kewajiban berkurang US$ 42 miliar pada kuartal III-2015.

"Komponen utang di kuartal III turun. Net kewajiban kita turun US$ 42 miliar di kuartal II. Pengurangan kewajiban tersebut karena dolar naik, nilai kewajiban kita jadi mengecil. Jadi pelemahan rupiah tidak selalu membawa dampak negatif, justru posisi kewajiban kita jadi turun," ujar Hendy.

Hendy menjelaskan, turunnya kewajiban dalam bentuk investasi langsung tersebut dipengaruhi aktivitas ekonomi domestik. Utang luar negeri yang termasuk dalam investasi lainnya juga naik 2% dari US$ 148,38 miliar di kuartal II-2015 menjadi US$ 151,34 miliar di kuartal III-2015.

"Investasi langsung atau foreign direct investment itu kebanyakan ke domestik. Jadi nggak ada kaitannya sama the Fed naik. Proyeksinya di kuartal IV akan lebih baik," tambah Hendy.

(drk/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads