Catatan tersebut terpantau mengalami penurunan sebesar 5,8% dibandingkan perolehan periode yang sama tahun 2014 sebesar Rp 939,8 miliar.
Padahal, menurut Direktur Usaha Menengah PT Bank Jatim Su'udi, perusahaan berhasil mencatatkan kenaikan total aset menjadi Rp 42,8 triliun atau naik 12,65% secara year on year (YoY).
Begitu juga penyaluran kredit yang tumbuh 8,46% menjadi Rp 28,41 triliun. Perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp 34,26 triliun atau naik 13,19% dan pendapatan bunga Rp 4,70 triliun (naik 15,17%).
Namun, seluruh peningkatan tersebut tak bisa mengimbangi kenaikan beban bunga yang tumbuh lebih besar ketimbang perolehan bunga dari pinjaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tren peningkatan jumlah orang yang menabung ini, kata dia, diakibatkan oleh perlambatan ekonomi yang terjadi sepanjang tahun 2015.
"Ekonomi melambat, orang jadi lebih senang simpan uangnya ketimbang belanja. Makanya yang nabung lebih banyak ketimbang yang pinjam untuk kredit," sebut dia.
Meski demikian, ia optimistis kinerja perusahaan akan lebih baik lagi di tahun 2016. Optimismenya didukung oleh sinyal-sinyal positif kondisi ekonomi secara nasional di tahun ini.
Dengan membaiknya kondisi ekonomi, kata dia, akan mendorong konsumsi masyarakat sehingga meningkatkan belanja. Hal tersebut tentunya akan banyak membutuhkan dukungan pembiayaan dari perbankan sehingga berpeluang meningkatkan pendapatan dari bunga pinjaman.
"Tahun 2015, kita mengalami perlambatan pertumbuhan. Tapi tahun ini kami yakin lebih baik karena beberapa program pemerintah, percepatan pembangunan lebih dipercepat pembangunan dan sebagainya. Sehingga kami yakin meskipun belum ngebut, tapi sinyal positif mulai kelihatan," pungkas dia.
(dna/drk)











































