Pinjaman tersebut disalurkan pada sejumlah proyek infrastruktur dan hilirisasi tambang. BNI juga mengalokasikan utang dari China itu untuk membayar utang yang telah jatuh tempo.
"Utang dari CDB kita sudah salurkan. Tujuan utama kita pinjam dari CDB kan untuk membiayai infrastruktur dan hilirisasi (tambang), dan penyaluran sudah dilakukan secara bertahap," kata Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni saat ditemui di kantor pusat BNI, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (12/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pinjaman lunak dari CDB tersebut bisa diserap dengan cepat karena kebutuhan pendanaan infrastruktur meningkat sangat pesat. Selain itu, jenis pendanan yang disyaratkan dari pemerintah pun fleksibel.
"Bisa terserap cepat karena syarat diajukan dalam penyaluran utang CDB ini bisa buat proyek baru, maupun proyek yang sudah jalan. Ini membuat pencairan dana dari CDB bisa lebih cepat. Itu sudah kita salurkan pada debitur-debitur kita baik BUMN maupun non BUMN," pungkasnya.
Sebagai informasi, 3 bank BUMN yakni Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan BNI memperoleh utang senilai US$ 3 miliar, atau sekitar Rp 42 triliun dari CDB. Masing-masing bank BUMN ini menerima utang US$ 1 miliar dengan jangka waktu atau tenor 10 tahun. Sebanyak 30% dari dana pinjaman tersebut diterima dalam mata uang yuan atau Renminbi (RMB) dan sisanya dalam bentuk dolar Amerika Serikat (AS).
(feb/feb)











































