Pasca krisis 2008, banyak otoritas yang menyalurkan stimulus untuk mencegah pemburukan ekonomi di negara masing-masing. Gelombang stimulus ini akhirnya mengalir ke pasar keuangan di emerging markets, termasuk Indonesia. Pasar keuangan Indonesia saat itu mengalami booming. Indeks harga saham serta harga obligasi melonjak pesat. Rupiah pun menguat signifikan.
"Pada saat itu, pertumbuhan ekonomi juga cukup tinggi," kata Muliaman dalam Pertemuan Tahunan OJK yang digelar di Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Jumat (15/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada periode berikutnya, terjadi arus sebaliknya. Saat Amerika menunjukkan pemulihan yang semakin solid yang ditandai dengan pelaksanaan tapering stimulus moneternya, sejak saat itu terjadi tekanan yang signifikan terhadap pasar keuangan diemerging markets, termasuk terhadap harga surat-surat berharga.
Pada saat yang bersamaan, ketika perlambatan ekonomi global berlanjut, perekonomian Indonesia juga termoderasi karena konsumsi tidak cukup lagi menjadi penopang pertumbuhan.
"Oleh karena itu, di tengah-tengah upaya untuk meredam gejolak ekonomi yang berlangsung guna mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi nasional, Kita harus bergegas untuk memperkuat basis pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat," ujar Muliaman.
(drk/hns)











































