Kenapa?
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara menjelaskan, hal tersebut dikarenakan ekspor Indonesia paling besar adalah sektor komoditas mentah. Sementara, harga internasional yang berlaku tengah menurun tajam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produk yang bisa meningkatkan ekspor ketika nilai tukar melemah adalah hasil manufaktur. Berbeda dengan barang mentah.
"Kalau indeksnya 95-97, artinya rupiah sedikit di bawah fundamental yang ada, maka barang manufaktur kita pada waktu ekspor relatif lebih murah," ujarnya.
Persoalan yang turut muncul adalah, pasar tujuan dagang Indonesia tidak banyak. Mitra dagang utama Indonesia, sekarang dalam kondisi yang buruk. AS masih sulit mendorong ekonominya tumbuh tinggi, China dalam perlambatan serius dan negara-negara Eropa juga mengalami hal yang sama.
"Kalau negara di sana resesi, apalagi ekspor kita komoditas, maka kurs nggak bisa membantu. Maka itu, yang bisa kalau produknya manufaktur dan negara tujuan ekspornya demand-nya besar," papar Mirza.
Perhatian BI adalah pada neraca perdagangan. Pemerintah berniat mendorong pertumbuhan ekonomi, dan hal itu akan memicu lonjakan impor. Bila ekspor tidak digenjot, maka mendorong defisit yang melebar.
"Negara kita impornya besar, sehingga stabilitas kurs penting sekali. Menurut BI, kurs yang sekarang sudah kurs yang kompetitif untuk produk manufaktur," tukasnya. (mkl/wdl)











































