Pembahasan diharapkan menghasilkan komitmen dan langkah-langkah yang dapat memberi solusi bagi permasalahan daya dukung logistik yang belum memadai dan kapasitas produksi pangan yang terbatas, baik di NTT maupun tingkat nasional.
Tujuan diadakan acara rakor pangan ini menurut Kepala Departemen Kebijakan Moneter BI Juda Agung adalah agar mendapatkan gambaran secara riil permasalahan logistik produksi pangan di daerah-daerah seluruh Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rakor yang akan diselenggarakan di Kupang kali ini merupakan inisiasi BI yang rutin dilaksanakan per-triwulan, sejak Agustus 2014. Rakor dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dilaksanakan untuk membahas berbagai permasalahan terkait ekonomi di daerah, yang terkait juga dengan permasalahan nasional.
Sebelumnya, Rakor pernah dilaksanakan di Manado, Bandung, Ambon, Jakarta, Balikpapan dan Yogyakarta. Tema yang diangkat di tiap daerah berbeda-beda, mempertimbangkan kekhususan permasalahan masing-masing daerah.
Beberapa tema yang pernah diangkat antara lain mengenai penguatan industri manufaktur, ekonomi berbasis maritim, serta pariwisata. Beberapa Rakor sebelumnya juga membahas mengenai pengembangan industri pangan.
"Topiknya selain membahas ekonomi dan keuangan daerah secara keseluruhan dari sisi PDB-nya seperti apa, dari sisi inflasi, dari sisi stabilitas sistem keuangan, juga kita bahas isu khusus yang menjadi perhatian dari Pemerintah juga di sektor riil, baik itu dari sisi ketahanan pangan, pangan, energi, maritim, konektivitas, dan juga dari sisi industri dan pariwisata," kata Juda.
Dalam Rakor di Kupang, hal yang akan dibahas antara lain mengenai dinamika permasalahan logistik dan produksi pangan daerah dan imbasnya pada upaya stabilisasi harga di daerah.
Selain itu, Rakor juga akan mencermati kendala pembenahan logistik pangan di NTT, serta langkah kebijakan yang dapat ditempuh lebih lanjut. Secara khusus, langkah kebijakan diharapkan dapat memperkuat upaya pembenahan sistem logistik pangan, memperkuat kapasitas produksi pangan serta koordinasi kebijakan pusat dan daerah dan peran aktif Bank Indonesia.
"Kenapa fokus di Indonesia Timur karena biasanya inflasi di berbagai daerah remote seperti Indonesia Timur itu tinggi, volatilitasnya juga tinggi, gejolak harganya juga tinggi dan juga disparitas perbedaan harga antar wilayah itu sangat tinggi, semakin jauh dan semakin logistiknya kurang memadai, kajian kami menunjukkan faktor logistik ini penting dalam mempengaruhi inflasi di daerah, oleh sebab itu kita akan fokus di masalah logistik pangan ini," tambahnya. (drk/drk)











































