Fenomena Suku Bunga Negatif di Negara Maju, Apa Artinya?

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Rabu, 17 Feb 2016 15:37 WIB
Foto: BBC
Jakarta - Negara-negara maju sudah mulai menerapkan suku bunga negatif, sebut saja Jepang. Bank sentral Jepang, Bank of Japan belum lama ini telah resmi menerapkan suku bunga negatif. Hal itu dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tengah lesu.

Selain Jepang, negara-negara maju lainnya juga sudah lebih dulu menerapkan suku bunga negatif, terutama negara-negara di Eropa. Jepang sendiri telah mengadopsi suku bunga negatif dari Eropa. Bahkan, para analis memperkirakan akan banyak negara maju lainnya yang bakal menerapkan suku bunga negatif untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi mereka.

Semakin banyak negara maju menerapkan suku bunga negatif, tentu menjadi fenomena di pasar keuangan dunia. Lantas, apa artinya?

Ekonom BCA David Sumual menilai, pemberlakuan suku bunga negatif menunjukkan perlambatan ekonomi tengah terjadi di dunia. Bahkan, beberapa negara mengalami resesi sehingga kebijakan tersebut perlu dilakukan agar ekonomi kembali pulih.

"Fenomena ini terjadi pasca krisis di tahun 90-an. Ekonomi Jepang sebenarnya sudah terganggu di akhir 90-an, saat itu terjadi gelembung properti di sana. Ekonomi lesu, Jepang melakukan kebijakan Quantitative Easing (QE), menggelontorkan dana ke pasar, dan banyak kebijakan lainnya, tapi itu tidak berhasil, akhirnya Jepang mengikuti Eropa dengan menerapkan suku bunga negatif," jelas dia kepada detikFinance, Rabu (17/2/2016).

Menurutnya, penerapan suku bunga negatif dilakukan Jepang untuk bisa kembali memulihkan perekonomiannya. Selama ini, masyarakat Jepang lebih banyak menyimpan dananya di perbankan dan enggan membelanjakannya. Sehingga ekonomi tidak bergerak. Cukup dengan menyimpan uang di bank, mereka sudah bisa mendapatkan keuntungan dengan bunga yang didapatkan. Inilah yang membuat pola konsumsi masyarakat tak bergerak. Ekonomi Jepang pun lesu.

Untuk mengantisipasinya, bank sentral Jepang kemudian menerapkan kebijakan suku bunga negatif. Diharapkan, hal tersebut bisa mendorong masyarakat untuk menarik dananya dan membelanjakannya ke sektor yang lebih produktif sehingga perekonomian bergerak.

"Kebijakan suku bunga negatif untuk mengantisipasi ini. Di samping itu, ekonomi Jepang menciut karena juga penduduk Jepang sudah mulai menua, produktivitas berubah, berkurang, makanya perlu didorong," terang dia.

Selain Jepang, negara-negara maju lainnya sudah lebih dulu menerapkan suku bunga negatif seperti Swedia, Jerman, Swiss, dan lain-lain. Ini menunjukkan jika perekonomian negara-negara tersebut dalam kondisi melambat, bahkan resesi.

"Di sana resesi berkepanjangan. Inflasi jauh lebih rendah, bahkan deflasi, ini kan berarti ekonomi tidak bergerak," katanya.

Meski demikian, David melihat, penerapan kebijakan suku bunga negatif tidak lantas ampuh membuat perekonomian kembali menggeliat. Sejauh ini, kebijakan tersebut baru sebatas eksperimen. Artinya, belum ada negara maju yang menerapkan kebijakan ini kemudian ekonominya langsung melesat.

"Ini belum tentu ekonomi langsung tumbuh cepat. Bisa saja malah menekan bisnis lainnya seperti perbankan. Karena menyimpan uang di bank nggak dapat untung, investor malah lari, sehingga duit di bank berkurang, dan ini bisa menekan laba perbankan," imbuh David. (drk/ang)