Ekonom BCA David Sumual melihat, penetapan suku bunga negatif tersebut dilakukan sebagai cara Jepang untuk bisa merangsang pertumbuhan ekonominya.
Karakteristik masyarakat Jepang yang tak suka belanja alias hemat, membuat konsumsi masyarakat bergerak stagnan alias tidak tumbuh. Untuk kembali menggairahkan ekonominya, Jepang memilih kebijakan suku bunga negatif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, kata David, harga-harga barang menurun karena perekonomian lesu. Masyarakat Jepang memilih menunda untuk membelanjakan uangnya, toh dalam beberapa waktu ke depan, harga-harga barang justru menjadi lebih murah.
"Karena harga-harga pada turun karena ekonomi lesu. Consumer mending nunggu bulan depan toh harganya bisa lebih rendah," katanya.
Lebih jauh David menjelaskan, di tengah fluktuasi sektor keuangan seperti saham akibat ketidakpastian ekonomi global, membuat masyarakat di Jepang lebih memilih menyimpan dananya di Surat Utang Negara (SUN) atau deposito yang memiliki tingkat imbal hasil lebih pasti.
"Terus mereka cari aman. Di sektor riil dianggap lebih risk, lalu di saham juga, jadi lebih pilih simpan di SUN atau deposito," kata David.
David mengungkapkan, untuk mendorong masyarakat membelanjakan uangnya, bank sentral Jepang menerapkan kebijakan suku bunga negatif agar para investor mau menarik dananya dan membelanjakannya ke sektor yang lebih produktif. Dengan begitu, perekonomian bergerak sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi Jepang.
Namun, penerapan suku bunga negatif ini belum tentu berhasil dan mendongkrak perekonomian. Pasalnya, hingga saat ini belum ada negara yang membuktikan bahwa penerapan suku bunga negatif mampu membuat perekonomian suatu negara terkerek naik.
"Penetapan suku bunga negatif masih sebatas eksperimen, ini bagian dari langkah untuk bisa mendorong pertumbuhan. Tapi selama ini belum terbukti," imbuh David. (drk/ang)










































