Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior BI menjelaskan pada dua tahun lalu, semua negara berkembang mengalami tekanan yang cukup berat, termasuk Indonesia. Ini dipengaruhi oleh rencana kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) oleh Bank Sentral Federal Reserve (The Fed).
"Ini periode untuk emerging markets mengalami capital outflow," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (18/2/2016)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan GWM primer ini akan menambah supply uang beredar di pasar dan diharapkan bank bisa mendorong pertumbuhan kredit," papar Mirza.
Pada Desember 2015, The Fed menaikan suku bunga acuan 25 bps yang mampu mengurangi ketidakpastian pada perekonomian global. Dari sisi domestik, inflasi terkendali dengan raihan 3,35% selama 2015 dan defisit transaksi berjalan pada level 2,06% PDB atau lebih rendah dari 3,09% PDB pada 2014.
"Perkembangan ekonomi domestik sangat membantu penarikan modal asing," sebutnya.
Akibatnya, nilai tukar rupiah kemudian bergerak menguat terhadap dolar AS. Apalagi dengan kondisi faktor eksternal, seperti Jepang yang menerapkan suku bunga negatif dan Uni Eropa yang tetap memberlakukan quantitative easing (QE).
Risiko global semakin berkurang setelah keputusan Bank Sentral AS memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga tahap selanjutnya ditunda sampai dengan semester II-2016 atau bahkan pada tahun depan.
"Dari kombinasi ini, kemudian BI menurunkan kembali BI rate dan menurunkan GWM primer," tukasnya. (mkl/ang)











































