Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Solikin M Juhro menjelaskan sejak Oktober 2015, ada proyeksi tekanan ekonomi global mulai berkurang. Saat rupiah mulai kembali pada tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Ekonomi domestik juga tampak bergairah, setelah kuartal III-2015 realisasi pertumbuhan mencapai 4,73%. Kemudian inflasi terkendali pada level rendah dan defisit transaksi berjalan sudah diperkirakan di bawah 3% terhadap PDB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun satu risiko yang mengkhawatirkan adalah kebijakan suku bunga AS. Meskipun akhirnya setelah dinaikan pada Desember 2015 sebesar 0,25%, rupiah justru mengalami penguatan.
BI kemudian memilih waktu penurunan suku bunga untuk pertama kali pada Januari dari 7,5% menjadi 7,25%. Dilanjutkan pada Februari sebesar 25 basis poin menjadi 7%. Ditambah dengan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) primer sebesar 1% menjadi 6,5%.
Alasannya dilakukan secara bertahap adalah kondisi investor pada pasar keuangan. Bila sekaligus dikhawatirkan menimbulkan rasa kaget untuk para investor.
"Kita bisa saja langsung turunkan 100 bps atau 50 bps, tapi kita lihat pasar. Dia butuh penyesuaian. Kebijakan bank sentral di manapun itu memang sebaiknya bersifat gradual," papar Solikin. (mkl/hns)











































