Dengan demikian, diperkirakan aliran modal asing yang masuk (capital inflow) ke dalam negeri akan lebih besar. Sehingga mendorong penguatan rupiah.
"Tekanan untuk volatilitas nilai tukar rupiah itu tidak sekuat yang lalu. Inflow pasti akan lebih besar," ungkap Solikin M Juhro, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) di Hotel Trans Studio Bandung, Sabtu (20/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tren ini akan berlanjut bila perekonomian dalam negeri stabil. Artinya inflasi dan defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) dapat terkendali sesuai perkiraan BI dan pemerintah.
"Apalagi kalau dinilai kredibel maka akan terus banjir," tegasnya.
BI akan berkoordinasi dengan pemerintah beserta otoritas lainnya untuk menjaga kestabilan tersebut. Terutama dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan strategis.
"Rupiah dengan kondisi itu diperkirakan akan lebih kuat dibandingkan dengan tahun lalu," ujar Solikin.
Tidak dipungkiri, ke depannya pelonggaran kebijakan moneter masih akan terus berlanjut untuk mendorong perekonomian tumbuh lebih tinggi.
"Konteks kondisi tersebut maka ruang pelonggaran kebijakan moneter masih ada," tukasnya. (mkl/hns)











































