Demikian disampaikan Bank Indonesia (BI) dalam keterangan resminya seperti dikutip detikFinance, Selasa (23/2/2016).
Berdasarkan jangka waktu asal, kenaikan tersebut dipengaruhi oleh ULN jangka panjang yang meningkat, sementara ULN jangka pendek menurun. Berdasarkan kelompok peminjam, kenaikan tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik yang meningkat, sementara ULN sektor swasta menurun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN berjangka panjang (86,7% dari total ULN). ULN berjangka panjang pada akhir triwulan IV-2015 mencapai US$ 269,4 miliar, naik 3,6% dibandingkan dengan posisi akhir triwulan III-2015 yang tercatat sebesar US$ 260,0 miliar.
Di sisi lain, ULN berjangka pendek turun 2,4% dari US$ 42,3 miliar pada akhir triwulan III-2015 menjadi US$ 41,3 miliar pada akhir triwulan IV-2015. Dengan perkembangan tersebut, kemampuan cadangan devisa untuk menutupi kewajiban jangka pendek membaik, tercermin pada rasio utang jangka pendek terhadap cadangan devisa yang turun dari 41,6% pada triwulan III-2015 menjadi 39,0% pada triwulan IV-2015.
Berdasarkan kelompok peminjam, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN sektor swasta. ULN sektor publik meningkat 6,6% (qtq) sehingga posisinya pada akhir triwulan IV-2015 menjadi sebesar US$ 143,0 miliar (46,0% dari total ULN). Di sisi lain, posisi ULN swasta turun 0,2% (qtq) sehingga menjadi US$ 167,7 miliar (54,0% dari total ULN) pada akhir triwulan IV-2015.
Pada sektor swasta, posisi ULN pada akhir triwulan IV-2015 terutama terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,2%. Bila dibandingkan dengan triwulan III-2015, posisi ULN sektor keuangan tumbuh 1,7%, sementara ULN sektor industri pengolahan, sektor pertambangan, dan sektor listrik, gas & air, dan bersih mengalami penurunan masing-masing sebesar 1,5%, 2,1%, dan 0,5%.
BI memandang perkembangan ULN pada triwulan IV-2015 masih cukup sehat, namun perlu terus diwaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional. Ke depan, BI akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keyakinan, ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makro ekonomi. (drk/dnl)











































