Bagi perbankan yang mampu melakukan efisiensi, di antaranya dengan penyesuaian margin atau Net Interest Margin (NIM), OJK akan memberikan insentif melalui kemudahan-kemudahan dalam pendirian kantor cabang atau pun perizinan produk-produk perbankan.
OJK ingin, margin perbankan bisa disesuaikan di angka 3-4% seperti Thailand. Melalui efisiensi tersebut, nantinya diharapkan suku bunga kredit juga bisa disesuaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua hal tersebut yang perlu disesuaikan dulu oleh pemerintah, agar sepadan dengan bank-bank negara ASEAN lain, baru kemudian akan diikuti oleh perbankan.
"Bunga kan kayak harga rumah, dibentuk dari suplai dan demand. Pertama, benchmark harganya harus disamakan antara negara ASEAN. Mesti samakan free risk rate, sekarang masih 7%, sementara obligasi negara yang 10 tahun saja 8%. Padahal risiko simpan uang di bank lebih besar ketimbang di surat utang negara," kata Budi ditemui di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (23/2/2016).
"Free risk rate-nya Singapra kan masih nol koma sekian, Thailand satu koma sekian. Menurunkan free risk rate itu mesti kerjasama antara perbankan, pemerintah, OJK, dan BI. Kalau risk free rate sudah sama, otomatis bunga kita menyesuaikan," imbuhnya.
Kedua, lanjut Budi, adalah memastikan likuiditas bank seimbang dengan negara ASEAN lain.
"Bunga itu kan harga uang tergantung suplai dan demand, kalau perbankan sebutnya likuiditas. Nah, kami juga harus pastikan bahwa kondisi demand suplai dari kelima negara ASEAN harus sama. Kalau nggak sama, lebih volatile perubahan harga uang atau perubahan bunga dari negara yang likuiditasnya rendah," jelas dia. (drk/drk)











































