JK: Suku Bunga RI Tertinggi di Asia, Harus Single Digit

JK: Suku Bunga RI Tertinggi di Asia, Harus Single Digit

Dana Aditiasari - detikFinance
Kamis, 25 Feb 2016 11:23 WIB
JK: Suku Bunga RI Tertinggi di Asia, Harus Single Digit
Foto: Dana Aditiasari
Jakarta - Pemerintah kembali menyinggung soal suku bunga di Indonesia yang dinilai masih tinggi, sehingga sulit bersaing dengan negara-negara lain.

Wakil Presiden, Jusuf Kalla mengungkapkan, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan jumlah penduduk kelas menengah yang besar. Namun, ada tantangan besar yang dimiliki Indonesia yaitu soal tingginya suku bunga.

"Apa tantangan yang dimiliki Indonesia? Tantangannya adalah bisa membuat sektor Indonesia bisa berkompetisi dengan negara lain. Untuk bersaing, Indonesia harus lebih efisien. Kita tahu bunga kredit Indonesia saat ini tertinggi di Asia," ujar JK, dalam Diskusi Tingkat Tinggi, The Economist Event's Indonesia Summit 2016 yang dihadiri ratusan pelaku bisnis dan organisasi internasional, di Ball Room Hotel Shangri La, Jakarta, Kamis (25/2/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

JK menyebutkan, saat ini suku bunga kredit di Indonesia masih tinggi mencapai 10-12%. Untuk bisa bersaing di negara-negara ASEAN, suku bunga kredit harus ditekan. Pemerintah menargetkan, suku bunga kredit di Indonesia bisa mencapai single digit di tahun depan.

"Suku bunga kita sekitar 10-12%. Agar lebih efisien, kami punya program, tahun depan harus single digit. Kami yakin bisa mencapai itu," terang dia.

Untuk mencapai single digit, JK menyebutkan, sangat tergantung oleh kebijakan pemerintah dan kerjasama dengan berbagai pihak terkait seperti Bank Indonesia (BI).

"Bank Indonesia telah mengumumkan BI Rate telah diturunkan. Dan kami sangat menghargai itu. Penurunan bunga akan memberikan dampak yang lebih positif. Penurunan bunga membuat beban industri kita lebih ringan. Yang tadinya mengandalkan pinjaman luar negeri bisa mulai beralih ke perbankan nasional karena bunganya lebih rendah. Industri akan lebih efisien," jelas dia.

Efisiensi juga bisa dicapai dengan menurunkan biaya. Penurunan biaya sangat bergantung pada penyediaan infrastruktur, jalan, bandara, telekomunikasi.

"Kami harap dalam 3 tahun ini pembangunan yang dilakukan bisa membuat industri kita semakin efisien. Dan bisa menciptakan efek berkelanjutan yang positif," pungkasnya. (drk/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads