Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, kata Aher, mengincar dana segar sebesar Rp 10 triliun dari penerbitan obligasi. Dana hasil penjualan obligasi nantinya akan dipakai untuk membiayai infrastruktur di Jabar.
"Biar cepat pecah telor. Karena kita sangat perlu funding buat awalnya Bandara Kertajati. Tapi karena Kertajati sekarang diambil alih (pemerintah) pusat pakai APBN, obligasi tetap akan jalan terus buat alihkan ke proyek lainnya. Targetnya semoga bisa Rp 5-10 triliun," jelas Aher ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (29/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan buat bandara lagi, tapi kawasan di sekitar bandara, itu kan juga menarik. Malah dananya lebih tinggi dibanding bangun bandaranya. Kalau bandaranya Rp 6 triliun, bangun kawasan Rp 8 triliun," ujarnya.
Kendati demikian, lanjutnya, semangat menjadi penjual obligasi pemerintah daerah pertama di Indonesia ini belum juga bisa direalisasikan, karena masih menunggu lampu hijau dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Kalau bisa kan tahun ini. Cuma syaratnya kan nunggu dari Kementerian Keuangan dan OJK dulu," tutupnya. (drk/drk)











































