Agus Marto Temui Saleh Husin, Bicara Transaksi Wajib Pakai Rupiah

Agus Marto Temui Saleh Husin, Bicara Transaksi Wajib Pakai Rupiah

Dana Aditiasari - detikFinance
Rabu, 02 Mar 2016 13:01 WIB
Agus Marto Temui Saleh Husin, Bicara Transaksi Wajib Pakai Rupiah
Foto: Dana Aditiasari
Jakarta - Pemerintah terus berupaya meningkatkan penggunaan rupiah dalam berbagai transaksi di dalam negeri. Berkenaan dengan itu, hari ini Menteri Perindustrian, Saleh Husin menjalin komunikasi dengan Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo.

Pertemuan di Ruang Kerja Menteri Perindutrian kurang lebih 90 menit sejak pukul 10.00-11.30 WIB. Menurut Agus, saat ini transaksi dalam valuta asing di dalam negeri sudah mengalami penurunan.

"Kita review bahwa di 2015 transaksi cukup banyak yang dalam valuta asing. Tahun lalu (2015) ada sekitar US$ 7 miliar dalam valas. Sekarang sudah turun jadi US$ 4 miliar per bulan. Artinya komitmen semua pihak untuk menjalankan aturan BI sesuai Undang-undang semakin tertib," ujar Agus usai pertemuan tersebut, Rabu (2/3/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, menurut Agus, nilai transaksi industri menggunakan valuta asing masih cukup tinggi, sehingga masih perlu didorong untuk dikurangi.

Komunikasi hari ini, kata Agus, dimaksudkan untuk mencari solusi atas kegiatan-kegiatan transaksi yang masih sulit menghindarkan penggunaan valuta asing.

"Butuh kita harus memahami masing-masing sektor dan sub sektor industri. karena mereka punya karakteristik. Ada yang karakteristik bahan bakunya harus impor yang transaksinya menggunakan valas. Ada sektor-sektor yang karena dia mendapat pinjaman pembiayaannya dalam valas, jadi dia pakai valas. Sehingga harus membicarakan secara spesifik. Sehingga hari ini kita (BI dan Kemenperin) komunikasikan soal itu," kata Agus.

Hasil pertemuan ini sendiri, oleh Saleh Husin akan ditindaklanjuti kepada para pelaku usaha. Ia menyadari, penerapan aturan ini tentu tak bisa segera karena membutuhkan penyesuaian alias adjustment aturan yang tepat, agar sektor industri tidak dirugikan.

"Tentu berdasarkan pertemuan dengan Gubernur BI dan kita tindak lanjuti ke pelaku usaha dan investor untuk menggunakan transaksi dalam uang rupiah agar kuat dan stabil. Industri kimia, tekstil, logam kita berikan surat lewat asosiasi dan tentu ini akan kita atur juga ke sektor lain speperti minuman, otomotif, dan lainnya.

"Perlu waktu makanan dan minuman (Mamin) yang memang bahan bakunya perlu impor sehingga perlu adjustment," pungkas dia. (dna/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads