Demikianlah diungkapkan Bambang dalam sambutannya saat membuka acara Milad ke 12 Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) di Gedung Dhanapala, kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (3/3/2016)
"Kami harap nanti yang mendalami atau penggiat ekonomi syariah baik keilmuan atau praktiknya tidak lagi urusan yang mencoba belajar baru tapi yang dari awal sudah pelajari dan dalami filosofi kelilmuan keuangan syariah," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya ini menggembirakan. Bukan itu saja, Perguruan Tinggi ternama yang besar mulai memberi perhatian pada pengembangan program studi syariah di D3, S1 sampai S3," papar Bambang.
Bahkan perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia (UI) sudah memiliki pengembangan sejak beberapa tahun lalu. Seperti ilmu ekonomi syariah, manajemen syariah dan akuntansi syariah.
"UI, waktu itu jadi kelahiran IAEI tapi FE UI tidak punya program khusus terkait ekonomi keuangan syariah. Baru beberapa tahun lalu dibuka program studi syariah S1," ujarnya
Pentingnya membangun SDM, kata Bambang sangat berpengaruh terhadap penggalian potensi. Sulit menciptakan berbagai konsep bila tenaga ahli yang menguasai sistem tersebut masih sangat kurang.
"Sektor keuangan syariah sudah makin besar makin kuat secara global maka kami sudah punya SDM yang mumpuni dan siap hadapi SDM manapun," terang Bambang.
Pada sisi lain, Bambang juga memaparkan terkait dengan lemahnya integrasi antara program studi dengan dunia kerja. Seringkali lulusan ekonomi syariah malah tidak dapat bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusannya.
"Disini kita harus memperbaiki kualitas mahasiswa, yang penting bahwa apa yang diajarkan di kampus sambung dengan dunia kerja. Jangan kampus eksklusif merasa punya serapan keilmuan jadi mahasiswa mengikuti. Sementara dunia kerja punya kebutuhan dan tidak diakomodir," pungkasnya. (mkl/ang)











































