Indonesia telah beberapa kali mengalami krisis keuangan dalam beberapa dekade ke belakang. Indonesia pertama kali mengalami krisis di tahun 1960 di mana terjadi inflasi yang luar biasa hingga menyebabkan harga komoditas melonjak tajam.
"Kita alami tahun 1997 sampai 1998 krisis finansial. Kita belum siap menghadapi dalam tipe yang baru (saat itu). Pengalaman kita harga minyak turun terjadi tahun 1970 dan 1980. Tahun 1960, kita hadapi inflasi yang luar biasa. Defisit melebar, pemerintah mencetak uang banyak, sehingga harga melonjak tajam," jelas Boediono di pelatihan Training for Trainers Kebanksentralan di Hotel Conrad, Nusa Dua, Bali, Rabu (30/03/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada 1997, meledaknya awal Oktober, kita sudah lakukan berbagai macam. Kita belum mengerti betul tiba-tiba uang mengalir keluar, kering di dalam negeri. Seperti kolam ikan, kalau airnya kering ikannya kelabakan," terang Boediono.
Hingga pada awal tahun 1998 pemerintah baru menyadari bahwa Indonesia juga terjatuh dalam krisis keuangan terbesar di Asia.
"Pada Januari 1998 kita mengoreksi respons kita sudah mulai normal. Kita negara yang terarah dalam krisis keuangan," tambah Boediono.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, pemerintah Indonesia lebih siap untuk mengantisipasi terjadinya krisis keuangan global. Sehingga Indonesia tidak ikut jatuh ke dalam lingkaran krisis keuangan global di tahun 2008.
"2008 kita alami krisis lagi, krisis finansial global, tapi kita lebih siap dibanding negara lain. Itu contoh kasus untuk pengalaman," tutup Mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut. (ang/ang)











































