Faktor utama penyumbang laba bersih perseroan berasal dari interest income atau pendapatan bunga yang mencapai Rp 6,09 triliun atau tumbuh 13,3% dibanding kuartal I-2015 yang berada di angka Rp 6,91 triliun.
Demikian disampaikan Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni, dalam Paparan Kinerja Kuartal I-2016, di kantor pusat BNI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (12/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia melanjutkan, laba juga ditopang oleh pendapatan non bunga yang pada kuartal I-2016 naik sebesar 16,4% dari Rp 1,90 triliun di kuartal I-2015 menjadi Rp 2,22 triliun pada periode yang sama 2016.
"Ini didukung oleh kenaikan fee based income dari trade finance, pengelolaan rekening, bisnis kartu, transaksi ATM, dan sumber pendanaan non bunga lainnya," kata Baiquni.
Adapun dari sisi kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL), bank berkode BBNI ini mencatatkan NPL sebesar 2,8%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2015 yang berada di level 2,1%.
Kredit Tumbuh
Total kredit yang sudah dikucurkan BNI hingga akhir kuartal I-2016 mencapai Rp 326,74 triliun. Jumlah ini naik 21,2% dari posisi akhir kuartal I-2015 yang jumlahnya Rp 269,1 triliun.
Baiquni mengatakan, sektor yang menjadi tumpuan pertumbuhan penyaluran kredit tersebut berasal dari business banking dan consumer banking. Sebanyak 71,7% total kredit disalurkan untuk sektor business banking atau korporasi, sebagian besar untuk sektor infrastruktur.
"Memang dengan banyaknya proyek infrastruktur pemerintah yang banyak sekali saat ini seperti jalan tol, power plant (pembangkit listrik) terutama dari BUMN seperti Waskita Karya, Jasa Marga, PLN membuat akhirnya kredit kita mengacu ke sana. Memang bobot terbesar di korporasi sektor infrastruktur yang sampai 71,7% kebanyakan di infrastruktur," jelas Baiquni.
Salah satu sektor yang menjadi penopang naiknya kredit di sektor business banking adalah kredit ke sektor konstruksi, yang tumbuh 127,5% dari Rp 2,63 triliun menjadi Rp 5,99 triliun pada kuartal I-2016.
Kredit BNI yang tumbuh terjadi pada sektor manufaktur, pertanian, transportasi, pergudangan, dan komunikasi, konstruksi, kelistrikan, gas, dan air, dan pertambangan.
Sementara itu, untuk kredit ke sektor consumer business, BNI mencatat pertumbuhan sebesar 9,8% dari Rp 52,53 triliun menjadi Rp 57,65 triliun.
"BNI menaruh perhatian serius pada penetrasi terhadap kredit yang berbasiskan payroll," tutupnya. (ang/ang)











































