Ini 5 Bank Sentral yang Menerapkan Suku Bunga Negatif

Ini 5 Bank Sentral yang Menerapkan Suku Bunga Negatif

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Rabu, 11 Mei 2016 17:33 WIB
Ini 5 Bank Sentral yang Menerapkan Suku Bunga Negatif
Foto: CNBC
Jakarta - Beberapa bank sentral di negara maju di dunia telah menerapkan suku bunga negatif. Penetapan suku bunga negatif dilakukan untuk memacu pertumbuhan ekonomi global yang tengah lesu.

Beberapa bank sentral tersebut menetapkan besaran suku bunga negatif hingga -1%. Bank sentral tersebut terdiri dari 4 bank sentral di Eropa dan 1 bank sentral Jepang.

"5 bank yang telah menerapkan suku bunga negatif, yaitu Swiss National Bank -0,75%, European Central Bank -0,3%, Danmarks Nationalbank -0,65%, Sveriges Riksbank -1,1%, Bank of Japan -0,1%," jelas Economist PT Bank Permata Josua Pardede saat acara Wealth Wisdom di Hotel Ritz Carlton, Jakarta Pusat, Rabu (11/5/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena suku bunga negatif di bank sentral Eropa dan Jepang mengindikasikan lemahnya pertumbuhan ekonomi global yang tidak kunjung membaik. Tren ini diperkirakan akan berlangsung dalam waktu yang lama akibat harga komoditas yang lemah.

"Kondisi global tidak sebaik periode sebelumnya. Kondisi semuanya trennya melambat," ujar Josua.

Akibatnya, International Monetary Fund (IMF) menurunkan besaran target pertumbuhan ekonomi global dari 3,4% menjadi 3,2%. Target tersebut meningkat 0,01% dari tahun 2015.

"Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan 3,2% sebelumnya 3,1%. IMF memproyeksikan 3,4% tapi karena belum begitu bagus, IMF merevisi dari 3,4% menjadi 3,2%," terang Josua.

IMF juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di Indonesia tumbuh 4,9% setelah sebelumnya diperkirakan dapat tumbuh 5,1%.

"IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,9% masih rendah dari target pemerintah 5,3%. Ini juga direvisi dari 5,1% jadi 4,9%," imbuh Josua.

Belum membaiknya pertumbuhan ekonomi global membuat gejolak di pasar keuangan terus terjadi.

"Ini yang membuat volatilitas currency di forex market akan terus bergejolak," tutup Josua. (drk/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads