Chief Economic BII: Level Rupiah Sekarang Tak Mengkhawatirkan
Sabtu, 19 Mar 2005 15:10 WIB
Jakarta - Chief Economic BII Ferry Lahuhihin mengatakan, nilai wajar rupiah saat ini hingga akhir tahun ada di level Rp 9.307/dolar AS.Menurutnya, rupiah saat ini sudah menjadi mata uang yang dimainkan secara global sehingga isu-isu lokal yang positif sekali pun tidak terlalu berpengaruh terhadap penguatan rupiah."Banyak orang terlalu takut bahwa rupiah saat ini sudah terlalu lemah karena mereka membandingkannya dengan pertengahan tahun lalu yang ada di bawah Rp 9.000/dolar AS. Padahal, nilai wajar rupiah sekarang Rp 9.307/dolar AS, sehingga kurs di level Rp 9.350 seperti saat ini sebenarnya belum terlalu mengkhawatirkan," kata Ferry disela workshop di Lido, Sukabumi, Jabar, Sabtu, (19/3/2005).Dia juga menilai pernyataan BI yang mengatakan rupiah sampai akhir tahun tetap di range Rp 8.600-Rp 9.000/dolar AS terlalu optimis.Keyakinan seperti itu, lanjut dia, terlihat otoritas moneter terkesan panik ketika rupiah saat ini di level Rp 9.300/dolar AS. Kepanikan tersebut tercermin dari naiknya suku bunga SBI.Menurut Ferry, level rupiah yang ditargetkan BI tahun ini berdasarkan penguatan rupiah yang terjadi pertengahan tahun lalu yang sempat menyentuh level Rp 8.600-an/dolar AS.Padahal, jika melihat ke belakang terlihat siklus pergerakan rupiah yang telah mencapai titik ekuilibriumnya. "Pada awal tahun 2002 rupiah di Rp 10.400/dolar AS kemudian menguat sampai Rp 8.200/dolar AS. Namun, setelah itu melemah dan relatif stabil di level Rp 9.200/dolar AS. Ini yang menjadi ekuilibrium pelaku pasar. Jadi, kalau saat ini rupiah Rp 9.300/dolar AS sebenarnya tidak terlalu lemah dibandingkan ekuilibriumnya," kata dia. Menurut dia, dalam waktu dekat diperkirakan belum akan ada pemicu yang bisa memperkuat rupiah, terutama karena dampak masih tingginya defisit AS, di mana untuk mengatasi hal itu AS kemungkinan akan terus menaikkan suku bunga yang berimbas pada menguatnya dolar AS.Selain itu, juga ada kepentingan sejumlah negara terutama di Asia yang ingin dolar AS melemah karena akan meningkatkan hasil ekspornya."Jadi agak aneh kalau sekarang kita pingin rupiah kuat. Padahal, negara lain menjaga mata uangnya tidak terlalu kuat terhadap dolar AS untuk kepentingan ekspor," katanya.Dia juga menegaskan, dinaikkannya rating utang Indonesia oleh S&P dan The Ficth terbukti tidak terlalu perpengaruh terhadap penguatan rupiah. Hal ini terjadi karena kenaikan rating tersebut hanya sebatas fenomena lokal, sedangkan rupiah kini sudah menjadi permainan global.Namun demikian, dia optimis pertumbuhan ekonomi RI tahun ini bisa mencapai 5,7 persen, inflasi terjaga di 6,92 persen, dan SBI 7,5 persen. Apalagi pertumbuhan masih akan dimotori oleh meningkatnya konsumsi masyarakat sehingga masih ada harapan ekonomi kita tumbuh.
(umi/)











































