Pemerintah Jangan Manjakan Investor dengan Harapan Palsu

Pemerintah Jangan Manjakan Investor dengan Harapan Palsu

Maikel Jefriando - detikFinance
Sabtu, 28 Mei 2016 12:58 WIB
Pemerintah Jangan Manjakan Investor dengan Harapan Palsu
Foto: Maikel Jefriando
Tangerang - Realisasi pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 4,92% pada kuartal I-2016 bukan sesuatu yang amat buruk. Akan tetapi optimisme pemerintah yang sangat kuat pada awal tahun akhirnya berujung kekecewaan bagi investor.

Pemerintah yakin bahwa ekonomi bisa tumbuh di atas 5%. Belanja negara, khususnya infrastruktur dari beberapa kementerian juga dikebut. Alhasil, espektasi yang terbangun pada investor mengikuti optimisme pemerintah.

"PDB pada kuartal I itu nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan kuartal IV-2015 iya turun. Tapi bandingkan kuartal I-2015 nggak buruk, justru lebih baik," kata Leo Putra Rinaldy, ekonom Mandiri Sekuritas dalam acara diskusi di Hotel Aryaduta, Lippo Karawaci, Tangerang, Sabtu (28/5/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Leo, kalangan investor tidak hanya melihat hasil yang diperoleh pada akhir periode. Namun espektasi yang dibangun oleh pemerintah sejak awal. Bila awalnya target adalah di atas 5%, tapi realisasi berada di bawahnya, maka bagi investor adalah sebuah kegagalan.

"Saran buat policy maker kita harus menjaga espektasi. Jangan buat espektasi yang akhirnya justru mengecewakan," tegasnya.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Ekonom Bank Permata Joshua Pardede. Pemerintah dari negara manapun harus optimis terhadap target yang ditetapkan. Sebab optimisme bisa menjadi stimulus espektasi bagi investor.

Bila ekonomi diawali dengan pesimisme, maka investor juga akan menanggapi dengan lebih buruk. Bayangkan saja dengan realisasi 4,8% pada 2015, kemudian tahun ini pemerintah sebut pertumbuhan ekonomi hanya 4%. Investor pasti kabur.

"Tapi target juga jangan ketinggian, nanti jauh juga dari realisasi sehingga akan menyangkut kredibilitas. Investor sangat memperhatikan hal itu," jelas Joshua.

Joshua menegaskan, hal tersebut tidak hanya berlaku untuk investor yang meletakkan modalnya pada portfolio, melainkan juga yang berada pada sektor rill.

"Kalau portfolio maka akan ada capital outflow, tapi sektor rill ya bisa penundaan investasi," ujarnya. (mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads