DP KPR Murah, Penyaluran Kredit Bisa Meningkat

DP KPR Murah, Penyaluran Kredit Bisa Meningkat

Dana Aditiasari - detikFinance
Senin, 30 Mei 2016 17:15 WIB
DP KPR Murah, Penyaluran Kredit Bisa Meningkat
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menargetkan pembahasan aturan pelonggaran Loan To Value (LTV) bisa rampung sebelum akhir Kuartal III-2016. Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, aturan ini diharapkan dapat mendongkrak realisasi penyaluran kredit yang saat ini tengah mengalami perlambatan.

"Betul (akan meningkatkan penyaluran kredit). Pertumbuhan kredit, kita dalam kajian stabilitas sistem keuangan ini menyimak bahwa sebetulnya pertumbuhan kredit kita di tahun 2015 itu di atas 10%, tapi sekarang ini ada perlambatan. Jadi hal ini juga kita bahas," kata dia di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (30/5/2016).

Menurut data BI, hingga Kuartal I-2016 alias periode Januari-Maret, realisasi penyaluran kredit perbankan hanya tumbuh sekitar 8,71%. Padahal, pada periode yang sama di tahun 2015, realisasinya bisa tumbuh hingga 11%. Sementara di tahun 2016, target BI kredit bisa tumbuh 12%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus mengatakan, BI selaku regulator memang perlu melakukan terobosan di tengah perlambatan ekonomi seperti saat ini. Pasalnya, bila dibiarkan begitu saja, perlambatan penyaluran kredit perbankan dapat menyebabkan perlambatan ekonomi yang lebih dalam secara nasional.

Ambil contoh, dari sektor industri properti. Minimnya penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menyebabkan pendanaan ke sektor ini semakin minim. Permintaan rumah baru pun menurun yang mengakibatkan konsumsi material untuk membangun rumah ikut menurun.

Perusahaan-perusahaan di sektor ini pun bakal kekurangan pendapatan yang pada akhirnya mengakibatkan kemampuan untuk melunasi kewajiban perbankan seperti pinjaman modal kerja ke pihak perbankan sulit dilunasi.

Untuk itu lah, terobosan dari BI selaku regulator sektor keuangan sangat diperlukan.

"Dalam kondisi di lapangan ada peran dari perlambatan ekonomi dunia dan dampaknya terhadap perlambatan ekonomi di Indonesia. Kemudian juga demand dari rumah tangga Indonesia yang rendah. Akibatnya, permintaan kredit lebih pelan. Ini yang kita bahas," pungkas dia. (dna/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads