Pergerakan dan jatah lokasi satelit di angkasa sendiri diatur oleh organisasi internasional, meskipun berada di atas langit tanah air.
"Kalau nggak diambil, sudah diantre negara lain. Kita nanti dapat antrian paling belakang," kata Direktur utama BRI, Asmawi Syam dalam press conference di Gedung BRI I, Jakarta, Selasa (31/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka tersebut terlihat besar namun tak seberapa bila dihitung dengan manfaat dan efisiensi biaya operasional BRI yang akan diperoleh setiap tahun.
Sepanjang tahun, BRI mengeluarkan sekitar Rp 500 miliar untuk menyewa 23 transponder. Kehadiran satelit ini, justru bisa menaikkan jumlah transponder yakni mencapai 45 unit. Tak hanya itu, BRI bisa memangkas biaya operasional jaringan telekomunikasi yang selama ini memakai pihak ketiga.
"Sampai sekarang masih sewa transponder Rp 500 miliar untuk 23 transponder. Punya satelit, kita bisa hemat 40% atau sekitar Rp 200 miliar," jelasnya.
Nantinya, BRISat akan diluncurkan ke orbit di angkasa pada 8 Juni 2016 di Kuorou, French Guiana, Amerika Selatan. Satelit ini siap beroperasi di filing orbit 150.50 BT, tepatnya di atas Papua pada Agustus 2016. (feb/hns)











































